Peringati HUT ke-81 RI, Kemendukbangga/BKKBN Jatim Perkuat Fokus MBG untuk 3B
SURABAYA – Media Indonesia Times | Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum bagi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur untuk kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat pembangunan keluarga dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui penguatan pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok sasaran 3B, yakni ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita yang belum mengikuti pendidikan anak usia dini (non-PAUD).




Penegasan itu disampaikan Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Jawa Timur, Shodiqin, seusai memimpin upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di halaman kantor Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan Jawa Timur, Surabaya, Senin (17/8/2026).
Upacara berlangsung dalam suasana khidmat dan diikuti jajaran karyawan. Hadir pula sejumlah tamu undangan, di antaranya mantan Inspektur Utama BKKBN serta Bapak-Ibu Pengurus Juang Kencana Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur.




Bagi Kemendukbangga/BKKBN Jawa Timur, momentum kemerdekaan tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenang perjuangan para pendahulu bangsa, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pembangunan manusia merupakan bagian penting dari upaya mengisi kemerdekaan.
Salah satu tantangan pembangunan manusia yang terus menjadi perhatian adalah pemenuhan gizi kelompok rentan, terutama pada masa kehamilan, menyusui, dan periode awal kehidupan anak.




MBG 3B untuk Perkuat Pencegahan Stunting
Shodiqin mengatakan, Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan Jawa Timur saat ini terus memberikan perhatian terhadap pelaksanaan MBG dengan sasaran 3B.




Distribusi makanan bergizi tersebut dilakukan melalui kader maupun Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang berada di lapangan, termasuk pada tingkat kecamatan dan desa.
Menurut Shodiqin, keterlibatan kader dan TPK menjadi bagian penting dalam memastikan bantuan makanan bergizi benar-benar sampai kepada kelompok yang menjadi sasaran.




“Program ini bagus untuk pencegahan stunting, supaya stunting-stunting di Indonesia khususnya di Jawa Timur bisa turun. Dan sesuai SOP-nya pengantarnya adalah kader atau tim pendamping keluarga,” ujar Shodiqin.
Pendekatan tersebut menempatkan program MBG bukan semata-mata sebagai kegiatan distribusi makanan, tetapi sebagai bagian dari upaya intervensi gizi yang membutuhkan ketepatan sasaran, pendampingan dan edukasi.




Pasalnya, pemenuhan gizi pada ibu hamil, ibu menyusui dan balita memiliki arti penting dalam membangun fondasi kesehatan manusia sejak periode awal kehidupan.
Ketepatan Sasaran Menjadi Perhatian Utama
Dalam pelaksanaannya, Shodiqin menyebut distribusi MBG bagi kelompok 3B sejauh ini berjalan lancar dan tidak menghadapi kendala sebagaimana yang terjadi dalam pelaksanaan MBG bagi anak-anak sekolah.
Namun, kelancaran distribusi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Menurutnya, hal yang tidak kalah penting adalah memastikan makanan yang diberikan benar-benar dikonsumsi oleh penerima manfaat yang telah ditetapkan.
“Penerima manfaatnya tepat sasaran. Yang untuk bumil ya dimakan ibu hamil, yang untuk balita juga betul-betul diberikan pada balita. Jangan sampai yang menikmati bukan penerima manfaat atau salah sasaran,” tegasnya.
Ketepatan sasaran menjadi penting karena setiap kelompok memiliki kebutuhan gizi yang berbeda. Ibu hamil memiliki kebutuhan nutrisi untuk mendukung kesehatan ibu sekaligus pertumbuhan janin. Ibu menyusui membutuhkan asupan yang memadai untuk menjaga kesehatan dan mendukung produksi ASI, sedangkan balita berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan yang sangat membutuhkan kecukupan energi serta zat gizi.
Karena itu, memastikan makanan sampai kepada penerima yang tepat merupakan bagian penting dari efektivitas intervensi gizi.
Kader Tidak Hanya Mengantar Makanan
Hal menarik dari pelaksanaan MBG untuk sasaran 3B adalah keterlibatan kader dan Tim Pendamping Keluarga tidak berhenti pada aktivitas mengantarkan makanan.
Mereka juga berperan memberikan edukasi kepada penerima manfaat mengenai pola makan dan pentingnya mengonsumsi makanan bergizi.
Shodiqin menjelaskan, edukasi tersebut mencakup pemahaman mengenai bagaimana mengonsumsi makanan serta pentingnya memilih makanan yang mengandung zat gizi, terutama protein.
“Selain mendistribusikan atau mengantar MBG, para kader juga memberikan edukasi bagaimana cara makan, bagaimana makanan yang bergizi yang mengandung protein,” jelasnya.
Pendampingan tersebut menjadi penting karena MBG diberikan satu kali dalam sehari. Artinya, kecukupan gizi tidak dapat hanya mengandalkan satu porsi makanan yang diterima melalui program.
Penerima manfaat tetap perlu memastikan kebutuhan gizinya terpenuhi melalui makanan yang dikonsumsi sepanjang hari.
“Sehingga ketika mereka makan di luar MBG, karena MBG hanya diberikan satu kali sehari, maka tetap bisa terpenuhi gizinya,” lanjut Shodiqin.
Dengan pendekatan tersebut, MBG diharapkan tidak hanya menghasilkan manfaat sesaat berupa makanan yang dikonsumsi, tetapi juga mendorong perubahan pengetahuan dan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari.
Edukasi Menjadi Kunci Keberlanjutan
Program pemberian makanan bergizi akan semakin memiliki dampak apabila dibarengi dengan peningkatan pemahaman penerima manfaat.
Keluarga perlu mengetahui bahwa makanan bergizi bukan selalu identik dengan makanan mahal. Pemenuhan gizi dapat dilakukan melalui pemanfaatan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar dengan memperhatikan keberagaman dan keseimbangan makanan.
Protein, misalnya, dapat diperoleh dari berbagai sumber pangan sesuai kondisi dan kemampuan keluarga. Yang terpenting adalah memastikan makanan yang dikonsumsi memenuhi kebutuhan gizi dan diberikan dalam jumlah serta pola yang sesuai.
Karena itu, keberadaan kader dan Tim Pendamping Keluarga memiliki peran strategis. Mereka berada dekat dengan masyarakat dan dapat menjadi penghubung antara program pemerintah dengan keluarga penerima manfaat.
Melalui edukasi yang dilakukan secara langsung, pesan mengenai pentingnya gizi dapat lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Makanan Bergizi Menuju Generasi Berkualitas
Fokus pada kelompok 3B memiliki relevansi yang kuat dengan upaya pembangunan sumber daya manusia.
Masa kehamilan hingga periode balita merupakan fase penting dalam kehidupan manusia. Pemenuhan kebutuhan gizi, kesehatan dan pengasuhan pada periode tersebut menjadi salah satu fondasi bagi tumbuh kembang anak.
Karena itu, intervensi gizi tidak seharusnya dilihat hanya dari jumlah makanan yang didistribusikan, tetapi juga dari kualitas makanan, ketepatan penerima, keteraturan konsumsi, serta pengetahuan keluarga dalam melanjutkan pola hidup sehat di luar program.
Dalam konteks inilah MBG 3B memiliki dimensi yang lebih luas: makanan menjadi pintu masuk, sedangkan peningkatan kualitas keluarga dan generasi menjadi tujuan yang lebih besar.
Satyalancana Karya Satya untuk Tiga Pegawai
Selain menegaskan komitmen terhadap program MBG 3B, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di lingkungan Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan Jawa Timur juga diwarnai dengan pemberian penghargaan Satyalancana Karya Satya.
Penghargaan tersebut diberikan kepada tiga karyawan yang telah mengabdikan diri selama 20 tahun, yakni Kasmari, Imam Suberi, dan Taufik Daryanto.
Pemberian penghargaan menjadi bentuk apresiasi terhadap pengabdian dan loyalitas aparatur yang selama dua dekade telah menjalankan tugas dalam mendukung pelayanan dan pembangunan di bidang kependudukan serta pembangunan keluarga.
Momentum tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan bukan hanya ditopang oleh program, tetapi juga oleh sumber daya manusia yang bekerja secara konsisten dan berkelanjutan.
Mengisi Kemerdekaan dengan Membangun Manusia
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kemendukbangga/BKKBN Jawa Timur akhirnya membawa pesan yang lebih luas.
Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun manusia Indonesia yang sehat, berkualitas dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Penguatan MBG bagi ibu hamil, ibu menyusui dan balita menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut. Ketika makanan bergizi diberikan secara tepat sasaran, disertai edukasi dan pendampingan, maka program tidak berhenti pada distribusi makanan.
Ia menjadi bagian dari investasi jangka panjang untuk mencegah stunting, memperkuat kualitas keluarga dan mempersiapkan generasi yang lebih sehat.
Di sisi lain, penghargaan Satyalancana Karya Satya kepada tiga pegawai menjadi pengingat bahwa pembangunan juga membutuhkan dedikasi manusia-manusia yang bekerja secara konsisten.
Dari pengabdian aparatur hingga pemenuhan gizi keluarga, semangat kemerdekaan terus diterjemahkan dalam kerja nyata: membangun manusia, memperkuat keluarga, dan menyiapkan generasi Jawa Timur yang lebih sehat dan berkualitas. (Bagas)
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Dugaan Kekerasan Seksual di TPQ Sambikerep, Polrestabes Surabaya Resmi Terima Laporan Korban
Wabup Pohuwato Nyatakan Siap Turun Bersama Massa, Besok Dijemput di Kantor Bupati