Keterangan Foto: Kondisi rumah Thalib Buliide dan Astin S. Noe di Dusun Panua, Desa Palopo, Kabupaten Pohuwato, yang telah ditempati selama 14 tahun. Rumah berukuran sekitar 4×5 meter tersebut tampak rapuh dengan atap yang rusak dan bagian dapur yang masih menggunakan material sederhana. Kondisi ini menjadi gambaran perjuangan keluarga tersebut untuk bertahan di tengah keterbatasan.
Traktir!
Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Media Indonesia Times dengan traktir.
Traktir
Pilih nominal traktir:
Nominal terpilih: -
Silakan transfer ke rekening berikut:
BCA 2640596034
a.n. Ari Bagus pranata
Terima Kasih!
Traktir Anda sebesar - telah tercatat sebagai dukungan untuk wartawan & redaksi Media Indonesia Times.
Silakan lakukan transfer ke rekening:
2640596034 (a.n. Ari Bagus pranata, BCA)
Semoga menjadi amal yang berkah!
Setelah menekan tombol Selesai, Anda dapat konfirmasi traktir via WhatsApp.
Terakhir: Konfirmasi via WhatsApp
Konfirmasi traktir Anda sebesar -
untuk berita ini kepada Admin via WhatsApp.
Bukti transfer Anda sudah terunggah & akan segera diperiksa Admin.
POHUWATO — Di tengah megahnya bangunan dan aktivitas perkantoran pemerintahan, masih ada keluarga yang menjalani kehidupan dalam keterbatasan. Salah satunya adalah Thalib Buliide (40) dan istrinya, Astin S. Noe (43), warga Dusun Panua, Desa Palopo.
Anda belum membaca semua isi berita ini
Selama kurang lebih 14 tahun, pasangan suami istri ini bertahan di sebuah rumah sederhana berukuran sekitar 4×5 meter. Sejak 2010, rumah tersebut menjadi tempat mereka berlindung sekaligus saksi perjalanan hidup keluarga kecil mereka.
Namun, kondisi rumah yang mereka tempati jauh dari kata layak.
Atap rumah telah berulang kali ditambal karena mengalami kebocoran. Sementara bagian dapur masih menggunakan atap rumbia yang hanya menjadi pelindung seadanya dari panas dan hujan.
Tak banyak perabot di dalam rumah tersebut. Tidak ada kemewahan yang terlihat. Yang ada hanyalah kesederhanaan dan keteguhan sebuah keluarga untuk tetap bertahan dengan kemampuan yang mereka miliki.
Kondisi tersebut terasa semakin miris karena rumah Thalib dan Astin berada tidak jauh dari kawasan perkantoran pemerintahan.
Selama bertahun-tahun, perhatian dan bantuan untuk memperbaiki kondisi rumah mereka belum juga terealisasi.
Astin mengungkapkan, beberapa kali ada pihak yang datang melihat kondisi rumah mereka. Namun, menurutnya, kedatangan tersebut belum menghasilkan bantuan nyata.
“Tidak pernah, Pak. Ada yang datang cuma foto-foto. Tapi sampai sekarang tidak ada bantuan yang dijanjikan,” ungkap Astin saat ditemui awak media, Jumat (11/9/2026).
Astin mengatakan, keluarganya memang pernah mendapatkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Namun, bantuan tersebut hanya diterima selama beberapa bulan dan telah berhenti sekitar dua tahun terakhir.
Kini, mereka kembali menjalani kehidupan dengan kondisi seadanya.
Meski membutuhkan rumah yang lebih layak, Astin mengaku tidak ingin terlalu banyak menuntut. Bahkan, ia merasa malu jika harus datang sendiri meminta bantuan kepada pemerintah atau pihak lain.
“Kalau ada, Alhamdulillah. Kalau tidak, ya tidak apa-apa, Pak. Malu mau minta-minta,” ujarnya lirih.
Ucapan tersebut menggambarkan bagaimana keluarga ini memilih untuk tetap bertahan, meski kondisi tempat tinggal mereka membutuhkan perhatian.
Bagi Astin, rumah layak bukanlah soal kemewahan. Ia hanya ingin tempat tinggal yang lebih aman bagi keluarganya, terutama ketika hujan turun dan atap rumah kembali mengalami kebocoran.
Selama 14 tahun, rumah kecil berukuran sekitar 4×5 meter itu menjadi tempat mereka tidur, berkumpul, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Di balik dinding sederhana dan atap yang telah berkali-kali ditambal, ada keluarga yang mungkin tidak banyak bersuara.
Bukan karena mereka tidak membutuhkan bantuan. Tetapi karena mereka memilih bertahan sembari menyimpan harapan bahwa suatu hari perhatian yang datang bukan hanya sebatas melihat dan mengambil gambar, melainkan benar-benar membawa perubahan.
Kisah Thalib dan Astin sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik pembangunan dan megahnya fasilitas pemerintahan, masih ada masyarakat yang membutuhkan perhatian.
Sebab bagi keluarga seperti Thalib dan Astin, rumah layak bukanlah kemewahan.
Rumah adalah tempat berlindung, tempat merasa aman, dan tempat untuk pulang.
Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.