Dari Sekolah untuk Indonesia: Sembilan Sekolah di Surabaya Bangkitkan Gerakan Pangan Aman, Perkuat Fondasi Makan Bergizi Gratis
Surabaya, 27 Agusutus 2026 — Media Indonesia Times | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar tentang menghadirkan makanan bergizi bagi anak-anak. Di balik setiap porsi yang tersaji, terdapat satu prinsip mendasar yang tidak boleh diabaikan: pangan yang bergizi harus pula aman untuk dikonsumsi.
Kesadaran inilah yang terus diperkuat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) melalui berbagai upaya edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Di Surabaya, semangat tersebut diwujudkan oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya dengan mendorong sekolah tidak hanya menjadi penerima edukasi, tetapi juga menjadi penggerak keamanan pangan di lingkungannya sendiri.




Pada 27 Agustus 2026, SMAN 18 Surabaya menjadi salah satu sekolah yang melaksanakan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) secara mandiri melalui Kader Keamanan Pangan Sekolah. Materi yang diberikan mencakup pengetahuan praktis mengenai cara memilih, menangani, dan mengonsumsi pangan yang aman.
Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa edukasi keamanan pangan tidak harus selalu menunggu kehadiran petugas. Ketika pengetahuan telah ditanamkan dan kapasitas kader telah diperkuat, sekolah dapat mengambil peran secara mandiri untuk menjaga lingkungan pangan yang lebih aman.




Dari ToT, Lahir Kader yang Menggerakkan
Gerakan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Fondasinya telah dibangun melalui Training of Trainers (ToT) yang diselenggarakan pada Juli 2026.




Melalui ToT, para Kader Keamanan Pangan Sekolah dibekali pengetahuan dan kemampuan untuk meneruskan pesan keamanan pangan kepada warga sekolah. Pola ini menciptakan efek berantai: pengetahuan tidak berhenti pada peserta pelatihan, tetapi diteruskan kepada siswa, guru, pengelola kantin, dan komunitas sekolah.
Inilah kekuatan pendekatan pemberdayaan.




Satu kader yang terlatih dapat menjadi sumber pengetahuan bagi banyak orang. Satu sekolah yang bergerak dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lainnya. Dan ketika semakin banyak sekolah memiliki kader yang aktif, budaya keamanan pangan dapat tumbuh menjadi gerakan yang lebih luas.
Keamanan Pangan, Pilar Penting MBG




Program MBG membawa misi besar dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak. Namun, pemenuhan gizi harus berjalan beriringan dengan jaminan keamanan pangan.
Makanan yang bergizi tidak akan memberikan manfaat optimal apabila tidak aman dikonsumsi. Karena itu, pengetahuan mengenai keamanan pangan menjadi bagian penting dalam memastikan program berjalan secara berkualitas dan memberikan manfaat nyata bagi penerima.




Kepala Badan POM, Taruna Ikrar, menegaskan pentingnya aspek tersebut.
“Keamanan pangan menjadi salah satu kunci keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keamanan pangan bukan pelengkap, melainkan fondasi yang harus hadir dalam setiap proses penyediaan dan konsumsi pangan.
Ketika Siswa Menjadi Duta Pangan Aman
Di lingkungan sekolah, perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan sederhana.
Memilih pangan yang aman.
Memperhatikan kondisi makanan.
Menjaga kebersihan sebelum makan.
Menangani pangan dengan cara yang benar.
Tidak sembarangan membeli makanan hanya karena tampilannya menarik atau harganya murah.
Pengetahuan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten akan membentuk perilaku hidup yang sehat.
Perwakilan SMAN 18 Surabaya menyampaikan harapan agar edukasi tersebut memberikan dampak lebih luas.
“Melalui KIE ini, kami berharap siswa semakin memahami bahwa makanan yang bergizi juga harus aman. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan di sekolah dan dibawa ke lingkungan keluarga.”
Pesan ini menjadi penting karena siswa bukan hanya penerima manfaat. Mereka juga dapat menjadi pembawa perubahan.
Apa yang dipelajari di sekolah dapat dibawa pulang ke rumah. Dari rumah, pengetahuan tersebut dapat dibicarakan bersama orang tua dan saudara. Dari keluarga, kesadaran pangan aman dapat menyebar ke lingkungan masyarakat.
Dengan demikian, sekolah menjadi titik awal dari sebuah rantai edukasi yang panjang.
Sembilan Sekolah, Satu Semangat
Selain SMAN 18 Surabaya, KIE mandiri juga dilaksanakan di sejumlah sekolah lainnya, yaitu SDN Tembok Dukuh I, SDN Tembok Dukuh III, SDN Pakal I, SDN Bubutan IV, MI Imam Syafi’i, MTs Imam Syafi’i, SMPN 50, dan SMAN 19 Surabaya.
Jika dihitung bersama SMAN 18 Surabaya, terdapat sembilan sekolah yang bergerak menjadi bagian dari penguatan edukasi keamanan pangan.
Keberagaman jenjang pendidikan ini menunjukkan bahwa budaya pangan aman perlu ditanamkan secara berkelanjutan. Anak-anak usia sekolah dasar perlu mengenal kebiasaan pangan aman sejak dini, sementara siswa jenjang menengah dapat semakin diperkuat agar mampu menjadi konsumen yang cerdas dan bertanggung jawab.
Sekolah Bukan Sekadar Tempat Belajar, tetapi Pusat Perubahan
Ketika sekolah memiliki kader yang mampu mengedukasi dan menggerakkan warga sekolah, maka sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat berlangsungnya proses belajar mengajar.
Sekolah dapat menjadi pusat pembentukan budaya hidup sehat.
Budaya tersebut tidak dibangun melalui satu kegiatan, tetapi melalui kebiasaan yang dilakukan terus-menerus. Edukasi yang berkelanjutan akan memperkuat kesadaran, sementara keterlibatan warga sekolah akan memastikan pesan keamanan pangan benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah peran Kader Keamanan Pangan Sekolah menjadi sangat strategis.
Mereka bukan sekadar peserta pelatihan. Mereka adalah penghubung antara pengetahuan dan tindakan, antara pesan keamanan pangan dan kebiasaan sehari-hari.
Dari Sembilan Sekolah, Menyebar Menjadi Gerakan
Penguatan kapasitas kader dan pelaksanaan KIE mandiri merupakan langkah penting untuk menciptakan ekosistem keamanan pangan yang semakin kuat.
Harapannya, semangat tersebut tidak berhenti di lingkungan sekolah.
Siswa membawa pengetahuan ke rumah.
Guru memperkuat pesan di lingkungan pendidikan.
Pengelola kantin menerapkannya dalam penyediaan pangan.
Keluarga meneruskannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dan masyarakat semakin sadar bahwa pangan aman adalah tanggung jawab bersama.
Pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak hanya dapat dilihat dari berapa banyak porsi makanan yang tersalurkan, tetapi juga dari seberapa kuat budaya keamanan pangan dibangun di setiap mata rantai program.
Karena setiap makanan yang aman adalah bagian dari perlindungan kesehatan.
Setiap anak yang memahami keamanan pangan adalah calon generasi yang lebih peduli.
Dan setiap sekolah yang berani menjadi penggerak adalah satu langkah lebih dekat menuju masyarakat yang semakin sadar, sehat, dan berkualitas.
Dari ToT lahir kader. Dari kader lahir edukasi. Dari edukasi tumbuh kebiasaan. Dari kebiasaan lahir budaya pangan aman. Dan dari budaya itulah kita membangun generasi sehat untuk Indonesia yang lebih kuat.
Sembilan sekolah di Surabaya telah menyalakan gerakan. Kini, semangatnya diharapkan terus menyala dari sekolah, ke keluarga, hingga ke seluruh penjuru masyarakat. (Bagas)
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Dugaan Kekerasan Seksual di TPQ Sambikerep, Polrestabes Surabaya Resmi Terima Laporan Korban
Wabup Pohuwato Nyatakan Siap Turun Bersama Massa, Besok Dijemput di Kantor Bupati