Sandika Anugrah Pratama Sya'ban Siswa SMAN 15 Surabaya Regenerasi Atlet Anggar Dari Bangku Sekolah
SURABAYA – Media Indonesia Times | Prestasi olahraga tidak pernah lahir secara kebetulan. Di balik keberhasilan seorang atlet berdiri di podium, terdapat proses panjang yang ditempa melalui latihan tanpa henti, disiplin, dan sistem pembinaan yang konsisten. Regenerasi atlet menjadi kata kunci agar prestasi tidak berhenti pada satu generasi.
Semangat itulah yang terus dibangun Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (IKASI) Jawa Timur. Di tengah persiapan atlet menghadapi Asian Games Aichi–Nagoya 2026, organisasi tersebut juga menaruh perhatian besar pada pembinaan atlet usia sekolah sebagai investasi jangka panjang olahraga anggar Indonesia.




Salah satu wajah regenerasi itu adalah Sandika Anugrah Pratama Sya'ban, pelajar kelas X SMAN 15 Surabaya. Di usianya yang masih remaja, Sandika telah memilih jalan yang tidak mudah. Selain menyelesaikan kewajibannya sebagai pelajar, ia juga menjalani rutinitas latihan anggar dengan disiplin tinggi.
Seusai mengikuti kegiatan belajar di sekolah, Sandika langsung bergabung dalam sesi latihan. Teknik dasar, kecepatan, ketepatan serangan, daya tahan fisik, hingga penguatan mental bertanding menjadi menu yang dijalani hampir setiap hari. Rutinitas tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan atlet yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang dalam karakter.




Bagi IKASI Jawa Timur, pembinaan atlet bukan sekadar mengejar hasil dalam satu kejuaraan. Yang lebih penting adalah membangun fondasi prestasi melalui latihan yang terprogram, pendampingan pelatih yang berkelanjutan, serta evaluasi yang dilakukan secara konsisten. Dengan sistem itu, regenerasi atlet diharapkan terus berjalan tanpa terputus.
Komitmen tersebut mendapat perhatian ketika Chief de Mission (CdM) Kontingen Indonesia untuk Asian Games Aichi–Nagoya 2026, Todotua Pasaribu, mengunjungi Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Anggar Jawa Timur di Lapangan Jatim Seger Dispora Jawa Timur, Jalan Kertajaya Indah, Surabaya.




Dalam kunjungan itu, Todotua didampingi Kepala Bidang Dispora Jawa Timur Hadi Wawan, Sekretaris Jenderal PB IKASI Firtian Judiswandarta, Penjabat Ketua IKASI Jawa Timur Atres HSP, serta pelatih anggar IKASI Jawa Timur Suparlan. Kehadiran mereka menjadi suntikan semangat bagi atlet dan pelatih yang tengah mempersiapkan diri menghadapi pesta olahraga terbesar di Asia tersebut.
Todotua menegaskan bahwa atlet harus diberi ruang untuk berkonsentrasi penuh meningkatkan kualitas teknik, fisik, mental, dan strategi bertanding. Sementara itu, seluruh kebutuhan pendukung menjadi tanggung jawab tim kontingen agar persiapan menuju Asian Games berlangsung maksimal.




Menurutnya, prestasi olahraga hanya dapat dibangun melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, organisasi cabang olahraga, dunia pendidikan, dan sektor swasta. Dukungan terhadap fasilitas latihan, peningkatan kualitas pelatih, penyediaan peralatan, hingga investasi pembinaan usia muda menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem olahraga nasional.
Sementara itu, Penjabat Ketua IKASI Jawa Timur Atres HSP mengungkapkan bahwa Jawa Timur kembali menjadi penyumbang atlet bagi tim nasional anggar Indonesia. Dari tujuh atlet yang lolos memperkuat Indonesia pada Asian Games Aichi–Nagoya 2026, tiga atlet berasal dari Jawa Timur, tiga dari DKI Jakarta, dan satu atlet dari Sumatera Selatan.




Ketiga atlet Jawa Timur akan tampil pada nomor Sabel Putri dan Épée Putri. Meski persaingan di Asia masih didominasi Jepang, China, Korea Selatan, dan Hong Kong, Atres optimistis kemampuan atlet Indonesia akan terus meningkat melalui pembinaan yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan.
Ia juga berharap pemerintah dapat merealisasikan pembangunan arena anggar yang representatif di Jawa Timur. Keberadaan fasilitas tersebut diyakini akan memperkuat proses pembinaan sekaligus membuka peluang lahirnya lebih banyak atlet potensial dari daerah.




Di balik persiapan atlet-atlet elite menuju Asian Games, perjalanan Sandika menjadi pengingat bahwa masa depan olahraga nasional sesungguhnya dimulai dari bangku sekolah. Disiplin membagi waktu, semangat belajar, serta ketekunan menjalani latihan merupakan modal yang tidak kalah penting dibanding kemampuan teknis di arena pertandingan.
Sandika menjadi gambaran bahwa pembinaan atlet bukan hanya tentang mencetak juara, tetapi juga membentuk pribadi yang tangguh, sportif, bertanggung jawab, dan memiliki integritas. Karakter tersebut tumbuh melalui sinergi keluarga, sekolah, pelatih, dan organisasi olahraga yang terus mengawal setiap tahap perkembangannya.
Regenerasi tidak lahir dalam semalam. Ia dibangun melalui proses panjang yang dimulai dari latihan sehari-hari, komitmen yang dijaga, serta pembinaan yang tidak pernah berhenti. Dari proses itulah nama Sandika Anugrah Pratama Sya'ban muncul sebagai salah satu simbol harapan lahirnya generasi baru anggar Indonesia generasi yang dipersiapkan sejak bangku sekolah untuk membawa Merah Putih bersaing di panggung internasional. (Bagas)
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Medicaid Expansion Improves Hypertension and Diabetes Control
Kombes Pol Rama Samtama Putra Pamit, Aktivis dan Masyarakat Banyuwangi Merasa Kehilangan