ROAD TRIP JAWA–BALI, VINFAST VF MPV 7 PUPUSKAN RANGE ANXIETY DAN TEGASKAN KESIAPAN EV UNTUK PERJALANAN JARAK JAUH
JAKARTA, 8 September 2026 — Media Indonesia Times | Perjalanan kendaraan listrik jarak jauh perlahan memasuki fase baru. Kekhawatiran mengenai keterbatasan jarak tempuh atau range anxiety yang selama ini menjadi salah satu pertimbangan konsumen dalam memilih mobil listrik mulai menemukan jawaban melalui pengalaman nyata di jalan.
Bukan sekadar perjalanan dari satu kota ke kota lain, sebuah perjalanan darat dari Jakarta menuju Bali selama 11 hari menjadi gambaran bagaimana kendaraan listrik modern dapat digunakan untuk menaklukkan beragam karakter perjalanan mulai dari lalu lintas perkotaan, jalan tol antarkota, jalur nonutama, hingga medan pegunungan dengan kontur jalan yang menantang.




Pengujian tersebut dilakukan EVriday Club menggunakan VinFast VF MPV 7, dengan melibatkan Grady Ewaldo, Abram Mailoa, Azzust Salim, dan Didit. Perjalanan panjang ini menjadi semacam uji dunia nyata terhadap kemampuan sebuah MPV listrik dalam menjalankan fungsi mobilitas jarak jauh sekaligus menguji kesiapan ekosistem pengisian daya yang menopangnya.
Bagi industri otomotif, perjalanan seperti ini memiliki arti lebih besar daripada sekadar ekspedisi. Ia menjadi representasi perubahan perilaku konsumen dan sekaligus menguji sejauh mana kendaraan listrik telah mampu keluar dari stigma sebagai kendaraan yang hanya ideal untuk penggunaan dalam kota.




MENJAWAB KEKHAWATIRAN KONSUMEN
Persoalan range anxiety memang belum sepenuhnya hilang dari persepsi masyarakat. Berdasarkan survei Populix yang dikutip dalam perjalanan tersebut, sekitar 65 persen responden masih memiliki kekhawatiran terhadap kondisi baterai ketika melakukan perjalanan.




Angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan kendaraan listrik bukan hanya berkaitan dengan teknologi kendaraan itu sendiri. Kepercayaan konsumen juga sangat dipengaruhi oleh ketersediaan infrastruktur pengisian daya, kemudahan menemukan stasiun pengisian, waktu pengisian, serta kemampuan kendaraan mempertahankan efisiensi energi dalam berbagai kondisi jalan.
Di sinilah perjalanan Jakarta–Bali menggunakan VF MPV 7 menjadi relevan.




Mobil tidak hanya diuji dalam kondisi ideal. Perjalanan dilakukan dengan menghadapi berbagai karakter jalan, termasuk rute Jawa bagian selatan, jalur pegunungan, jalan nonutama, hingga perjalanan sekitar 400 kilometer melalui Tol Trans Jawa.
Artinya, pengujian tersebut memberikan gambaran lebih realistis mengenai bagaimana kendaraan listrik bekerja ketika digunakan dalam skenario yang mendekati kebutuhan konsumen sehari-hari bahkan untuk perjalanan antarkota dengan jarak yang panjang.




INFRASTRUKTUR PENGISIAN MULAI MENJADI EKOSISTEM
Salah satu temuan menarik dari perjalanan ini justru bukan hanya mengenai performa kendaraan, melainkan pengalaman menemukan fasilitas pengisian daya.




Tim EVriday Club menemukan fasilitas pengisian V-Green di sejumlah lokasi yang sebelumnya mungkin tidak menjadi bayangan umum mengenai tempat pengisian kendaraan listrik. Beberapa di antaranya berada di sekitar Kantor Pos, RRI, FamilyMart, hingga kawasan dekat Pelabuhan Ketapang.
Di sisi lain, keberadaan SPKLU PLN juga memberikan alternatif pengisian di sejumlah titik perjalanan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perjalanan kendaraan listrik kini semakin ditopang oleh jaringan infrastruktur yang berkembang. Bagi konsumen, perubahan ini sangat penting karena persepsi terhadap mobil listrik tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kapasitas baterai.
Ketersediaan charger yang mudah ditemukan dapat mengubah cara konsumen memandang perjalanan.
Mobil listrik tidak harus selalu memiliki baterai berkapasitas sangat besar untuk memberikan rasa aman. Yang lebih penting adalah adanya kombinasi antara efisiensi kendaraan, kemampuan pengisian cepat, perencanaan perjalanan, dan kepadatan jaringan pengisian.
Dalam konteks bisnis otomotif, pola tersebut juga memperlihatkan bahwa masa depan industri kendaraan listrik tidak hanya berada di sektor manufaktur kendaraan. Ekosistem pendukung termasuk penyediaan infrastruktur pengisian daya akan menjadi bagian penting dari rantai nilai industri otomotif masa depan.
PERFORMA 201 HP, TORSI 280 NM
Dari sisi teknis, VinFast VF MPV 7 dibekali motor listrik dengan tenaga 201 hp dan torsi maksimum 280 Nm.
Karakter motor listrik yang mampu menghasilkan torsi secara instan memberikan keuntungan ketika kendaraan menghadapi perubahan kontur jalan. Hal tersebut menjadi semakin penting ketika kendaraan membawa penumpang dan barang dalam perjalanan jarak jauh.
Kemampuan tersebut didukung sejumlah fitur keselamatan dan pengendalian, antara lain Hill Start Assist, Traction Control System (TCS), Electronic Stability Control (ESC), serta sistem pengereman regeneratif.
Kombinasi teknologi tersebut membuat perjalanan di medan menanjak maupun menurun tidak hanya mengandalkan tenaga motor, tetapi juga sistem elektronik yang membantu menjaga stabilitas dan kendali kendaraan.
Untuk kebutuhan perjalanan jauh, sistem regeneratif juga mempunyai peran strategis. Energi yang dihasilkan ketika kendaraan melakukan deselerasi atau melaju menurun dapat dikembalikan ke baterai sehingga membantu meningkatkan efisiensi perjalanan.
Pengalaman di kawasan Bromo menjadi salah satu gambaran menarik. Dalam perjalanan menuruni jalur sekitar 13 kilometer, sistem regenerasi dilaporkan mampu mengembalikan energi sekitar 9 kWh.
Bagi pengguna kendaraan listrik, fenomena tersebut memperlihatkan satu keunggulan mendasar teknologi EV: energi tidak hanya digunakan dan hilang, tetapi sebagian dapat dipulihkan melalui sistem regenerasi.
EFISIENSI MENJADI KUNCI
Dalam perspektif ekonomi, efisiensi energi merupakan salah satu parameter penting yang menentukan daya saing kendaraan listrik.
VF MPV 7 dalam perjalanan tersebut disebut mampu mencatat konsumsi energi sekitar 7,5 kWh per 100 kilometer dalam kondisi penggunaan nyata.
Angka konsumsi tersebut menjadi penting karena kapasitas baterai bukan satu-satunya faktor yang menentukan jarak tempuh. Kendaraan dengan konsumsi energi lebih efisien akan memiliki fleksibilitas lebih tinggi dalam melakukan perjalanan.
Dengan demikian, persaingan kendaraan listrik ke depan diperkirakan tidak hanya berlangsung pada kapasitas baterai atau besarnya tenaga motor. Efisiensi energi, manajemen termal, aerodinamika, bobot kendaraan, sistem regenerasi, serta kecerdasan perangkat lunak akan semakin menentukan posisi sebuah produk di pasar.
Bagi konsumen, efisiensi pada akhirnya bermuara pada biaya operasional yang lebih rasional.
MPV LISTRIK TAK HANYA SOAL PERFORMA
Sebagai kendaraan berformat MPV, VF MPV 7 juga membawa tantangan tersendiri. Kendaraan keluarga dituntut tidak hanya mampu bergerak efisien, tetapi juga menawarkan kenyamanan, ruang kabin, fleksibilitas, dan kemampuan membawa penumpang serta barang.
VF MPV 7 memiliki dimensi panjang 4.740 mm, lebar 1.872 mm, tinggi 1.734 mm, serta jarak sumbu roda 2.840 mm. Ground clearance mencapai 180 mm.
Konfigurasi tersebut memberikan ruang yang cukup untuk kebutuhan perjalanan keluarga, sementara penggunaan suspensi belakang independen multi-link ditujukan untuk memberikan karakter pengendaraan yang lebih nyaman dan stabil.
Kenyamanan juga menjadi perhatian pada baris ketiga. Kehadiran sistem pendingin udara hingga bagian belakang kabin menjadi faktor penting untuk perjalanan panjang di negara tropis seperti Indonesia.
Ketika kursi baris ketiga dilipat, kapasitas bagasi dapat mencapai sekitar 1.240 liter. Fleksibilitas tersebut membuat kendaraan lebih adaptif untuk berbagai kebutuhan, mulai dari perjalanan keluarga, aktivitas bisnis, hingga perjalanan lintas daerah dengan membawa banyak barang.
PENGISIAN CEPAT MEMANGKAS WAKTU TUNGGU
Salah satu aspek yang menentukan pengalaman pengguna kendaraan listrik adalah kecepatan pengisian.
VF MPV 7 mendukung pengisian cepat DC dengan konektor CCS2 hingga 80 kW. Dalam kondisi yang sesuai, pengisian baterai dari 10 persen hingga 70 persen dapat dilakukan sekitar 30 menit.
Waktu tersebut memiliki arti strategis dalam perjalanan jauh.
Jika pengisian dilakukan bersamaan dengan waktu istirahat, makan, atau aktivitas singkat lainnya, waktu yang sebelumnya dianggap sebagai hambatan dapat diintegrasikan ke dalam pola perjalanan.
Konsep ini menjadi penting dalam membangun kebiasaan baru pengguna EV. Pengemudi kendaraan listrik tidak lagi semata-mata menghitung berapa kilometer yang dapat ditempuh, tetapi mulai mengelola perjalanan berdasarkan kombinasi jarak, kondisi baterai, lokasi charger, waktu pengisian, serta tujuan perjalanan.
Dengan kata lain, mobilitas listrik melahirkan paradigma baru dalam merencanakan perjalanan.
DARI RANGE ANXIETY MENUJU RANGE CONFIDENCE
Pengalaman perjalanan Jakarta–Bali tersebut pada akhirnya memberikan pesan penting bagi perkembangan pasar kendaraan listrik Indonesia.
Range anxiety bukan sesuatu yang dapat dihapus hanya melalui peningkatan kapasitas baterai. Kekhawatiran tersebut harus dijawab secara simultan melalui tiga komponen utama: kendaraan yang efisien, infrastruktur pengisian yang semakin luas, dan pengalaman pengguna yang semakin matang.
Dalam perjalanan tersebut, pengalaman menemukan charger di berbagai lokasi menjadi salah satu faktor yang mengubah persepsi tim terhadap perjalanan EV.
Grady Ewaldo bahkan mengungkapkan keterkejutannya karena fasilitas pengisian ternyata relatif mudah ditemukan sepanjang perjalanan.
Pengalaman itu menjadi indikator bahwa ekosistem kendaraan listrik Indonesia mulai bergerak dari tahap pengenalan menuju tahap pemanfaatan yang lebih praktis.
Perubahan persepsi tersebut sangat penting bagi industri.
Sebab, keputusan konsumen membeli kendaraan bukan hanya didasarkan pada spesifikasi teknis. Rasa aman, kemudahan penggunaan, biaya operasional, kenyamanan, serta keyakinan bahwa kendaraan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan menjadi faktor yang semakin menentukan.
IMPLIKASI BAGI INDUSTRI OTOMOTIF
Dari sudut pandang ekonomi bisnis, perjalanan ini juga memperlihatkan bahwa pertumbuhan kendaraan listrik akan menciptakan kompetisi baru di industri otomotif.
Produsen tidak cukup hanya menawarkan kendaraan dengan teknologi elektrifikasi. Mereka harus mampu menghadirkan ekosistem yang memberikan pengalaman penggunaan secara menyeluruh.
Kendaraan, baterai, charger, layanan purna jual, perangkat lunak, pembiayaan, hingga jaringan pendukung perjalanan akan menjadi satu kesatuan dalam membangun kepercayaan konsumen.
Perubahan tersebut sekaligus membuka peluang bisnis baru bagi berbagai sektor.
Pengembangan infrastruktur pengisian, pusat layanan kendaraan listrik, penyedia energi, teknologi baterai, perangkat lunak, hingga layanan perjalanan berbasis EV berpotensi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi baru yang tumbuh mengikuti ekspansi elektrifikasi otomotif.
Dalam konteks itu, perjalanan Jakarta–Bali menggunakan VF MPV 7 bukan hanya cerita mengenai sebuah mobil yang menempuh ribuan kilometer. Ia menjadi gambaran bagaimana teknologi kendaraan listrik mulai berinteraksi dengan infrastruktur, perilaku konsumen, dan kebutuhan mobilitas masyarakat.
ERA BARU MOBILITAS LISTRIK
Perjalanan panjang selalu menjadi ujian paling jujur bagi sebuah kendaraan.
Di jalan raya, angka pada brosur berhadapan dengan kondisi nyata. Performa diuji oleh tanjakan, efisiensi diuji oleh jarak, kenyamanan diuji oleh waktu tempuh, sementara ekosistem pengisian diuji oleh kebutuhan pengguna yang tidak mengenal batas kota.
Dalam konteks tersebut, perjalanan 11 hari Jakarta–Bali menggunakan VinFast VF MPV 7 memperlihatkan bahwa kendaraan listrik semakin mampu menjalankan peran sebagai kendaraan mobilitas utama, bukan sekadar kendaraan alternatif untuk perjalanan jarak pendek.
Teknologi motor listrik, sistem regenerasi, efisiensi energi, kemampuan pengisian cepat, serta semakin berkembangnya jaringan charger membuat perjalanan lintas pulau dengan kendaraan listrik menjadi semakin realistis.
Pada akhirnya, masa depan kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh sebuah mobil dapat berjalan dengan sekali pengisian.
Masa depan itu ditentukan oleh seberapa mudah masyarakat dapat menggunakan kendaraan tersebut dalam kehidupan nyata.
Dan ketika perjalanan Jakarta–Bali dapat ditempuh dengan lebih percaya diri, pertanyaan mengenai kendaraan listrik perlahan mulai bergeser dari “Apakah EV bisa dipakai perjalanan jauh?” menjadi “Seberapa jauh lagi ekosistem EV Indonesia dapat berkembang?”
Pertanyaan kedua inilah yang justru menjadi peluang besar bagi industri otomotif nasional.
Karena ketika range anxiety mulai berubah menjadi range confidence, kendaraan listrik tidak lagi sekadar menawarkan teknologi baru. Ia mulai membentuk cara baru masyarakat Indonesia bergerak, bepergian, dan memandang masa depan mobilitas. (Bagas)
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Dugaan Kekerasan Seksual di TPQ Sambikerep, Polrestabes Surabaya Resmi Terima Laporan Korban
Wabup Pohuwato Nyatakan Siap Turun Bersama Massa, Besok Dijemput di Kantor Bupati