Cuaca
Memuat cuaca...
Berita

Kepala SMK 1 Janapria Dorong MBG Diiringi Pemantauan Gizi dan Ketahanan Pangan

Kepala SMK 1 Janapria Dorong MBG Diiringi Pemantauan Gizi dan Ketahanan Pangan
Kepala SMK N 1 Janapria. H. Rahmat Dzakir,S.P., M.Pd.

LOMBOK TENGAH — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan pendidikan dinilai perlu berjalan beriringan dengan pemantauan kesehatan dan status gizi peserta didik. Program tersebut tidak hanya sebatas pendistribusian makanan, tetapi juga harus dapat diukur dampaknya terhadap kesehatan dan pemenuhan gizi siswa.

Kepala SMK Negeri 1 Janapria, H. Rahmat Dzakir, S.P., M.Pd., mengatakan keberadaan program MBG semestinya didukung dengan keterlibatan fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas, untuk melakukan pemantauan secara berkala.

 

“Sekarang ini begitu MBG berjalan, maka puskesmas juga harus berjalan. Indikator gizi yang baik harus ada pemantauan, termasuk bagaimana angka stunting bisa ditekan,” ujar Rahmat.

 

Menurut dia, sinergi antara sekolah, tenaga kesehatan dan pelaksana program MBG penting untuk memastikan makanan yang diberikan benar-benar memberikan manfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan peserta didik.

 

Di sisi lain, Rahmat juga menyoroti pentingnya ketahanan pangan sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat. Ia menilai pemerintah perlu kembali mendorong gerakan menanam sejumlah komoditas pangan yang banyak dibutuhkan masyarakat, salah satunya cabai.

 

“Yang paling fundamental terhadap keuangan rumah tangga salah satunya adalah cabai. Ketika harga cabai naik, masyarakat ikut merasakan dampaknya,” katanya.

 

Ia menilai penguatan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga maupun lingkungan sekolah dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu menjaga stabilitas harga dan mencegah tekanan inflasi.

 

Dalam pelaksanaan MBG, Rahmat juga mengajak semua pihak memberikan masukan secara konstruktif apabila terdapat kekurangan. Salah satunya terkait variasi menu makanan yang disajikan kepada siswa.

 

Menurutnya, apabila menu yang diberikan kurang bervariasi, hal tersebut sebaiknya disampaikan sebagai bahan evaluasi agar kualitas program MBG semakin baik.

 

“Kalau ada kekurangan MBG, misalnya sayur atau menunya kurang bervariasi, ya disampaikan sebagai masukan. Tujuannya agar program ini semakin baik,” ujarnya.

 

Rahmat menegaskan, kritik dan masukan terhadap pelaksanaan program pemerintah merupakan bagian dari proses evaluasi. Namun, penyampaian aspirasi hendaknya tetap dilakukan sesuai peran dan koridor masing-masing.

 

Ia berharap program MBG di lingkungan pendidikan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan makanan harian, tetapi juga mampu mendukung peningkatan kualitas kesehatan, konsentrasi belajar, serta tumbuh kembang peserta didik.

Dengan demikian, MBG diharapkan menjadi bagian dari upaya jangka panjang membangun generasi yang sehat, produktif dan memiliki kualitas sumber daya manusia yang lebih baik.

Ru
Penulis Ruslan
Ti
Editor Tim Redaksi
Sumber Media Indonesia Times

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN