Cuaca
Memuat cuaca...
Berita

GM Berganti Lagi di Tengah Antrean 12 Kilometer! Nakhoda Baru ASDP Ketapang Langsung Dihadapkan Ujian Berat

GM Berganti Lagi di Tengah Antrean 12 Kilometer! Nakhoda Baru ASDP Ketapang Langsung Dihadapkan Ujian Berat
antrean kendaraan yang dilaporkan mengular hingga sekitar 12 kilometer

BANYUWANGI – Lintasan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk kembali menjadi sorotan serius. Di tengah  antrean kendaraan yang dilaporkan mengular hingga sekitar 12 kilometer dan berdampak pada aktivitas masyarakat serta distribusi logistik, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melakukan pergantian pimpinan di Pelabuhan Ketapang.

 

Media Syahrianto Heriawan resmi menggantikan Arief Eko Kurniansjah sebagai General Manager ASDP Ketapang sejak Jumat, 4 September 2026.

 

Pergantian ini menarik perhatian publik karena dalam kurun waktu yang relatif singkat, posisi General Manager ASDP Ketapang telah beberapa kali mengalami pergantian. Bahkan, tiga GM terakhir disebut belum ada yang menjabat hingga tujuh bulan.

 

Kini, Media Syahrianto Heriawan langsung menghadapi tantangan yang tidak ringan.

 

Belum sempat menikmati masa transisi, nakhoda baru ASDP Ketapang tersebut sudah harus berhadapan dengan persoalan klasik yang kembali membesar: penumpukan kendaraan, antrean panjang, serta tekanan terhadap kelancaran arus logistik Jawa–Bali.

 

Kemacetan yang terjadi tidak hanya berdampak pada para sopir dan pengguna jasa penyeberangan. Antrean kendaraan juga berpotensi merembet pada berbagai sektor, mulai dari distribusi barang, aktivitas ekonomi masyarakat, pendidikan, hingga sektor pertanian yang membutuhkan kepastian kelancaran jalur transportasi.

 

Strategi TBB Jadi Andalan

Untuk mempercepat pergerakan kapal dan memangkas waktu tunggu kendaraan, salah satu strategi yang diterapkan adalah skema Tiba, Bongkar, Berangkat (TBB).

 

Skema tersebut diharapkan dapat mempercepat siklus operasional kapal, sehingga kapal yang tiba dapat segera membongkar muatan dan kembali berlayar tanpa mengalami waktu tunggu yang panjang di pelabuhan.

 

Namun, efektivitas strategi ini kini menjadi perhatian publik, mengingat lonjakan kendaraan dan aktivitas logistik di lintasan Ketapang–Gilimanuk terus memberikan tekanan terhadap kapasitas pelayanan pelabuhan.

 

Lintas Instansi Dikerahkan

Penanganan kemacetan juga membutuhkan koordinasi lintas instansi. Sejumlah pihak seperti BPTD, KSOP, kepolisian, Denpom, hingga Dinas Perhubungan diharapkan dapat bersinergi dalam mengatur pergerakan kendaraan dan memperlancar akses menuju kawasan pelabuhan.

 

Koordinasi tersebut dinilai menjadi faktor penting, sebab persoalan antrean kendaraan tidak hanya terjadi di dalam area pelabuhan, tetapi juga dapat meluas hingga ke ruas jalan utama.

 

Kapal Besar dan Dermaga Baru Jadi Harapan

 

Upaya lain yang tengah menjadi perhatian adalah penambahan kapal berkapasitas besar, termasuk rencana pengoperasian KMP Jatra 1 berkapasitas sekitar 3.500 GRT yang disebut mampu mengangkut hingga 38 kendaraan dalam satu kali perjalanan.

 

Selain penambahan armada, peningkatan kapasitas dermaga juga menjadi bagian dari langkah jangka menengah dan panjang. Pembangunan dermaga Ponton serta Movable Bridge (MB) diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pelayanan terhadap lonjakan arus kendaraan dan logistik.

 

Kebutuhan peningkatan kapasitas menjadi semakin mendesak seiring adanya peningkatan arus logistik yang disebut berada pada kisaran 12 hingga 16 persen.

 

Buffer Zone Disiapkan, Jalan Raya Jangan Sampai Jadi Tempat Parkir

Persoalan paling nyata yang kini menjadi perhatian adalah ketika antrean kendaraan mulai melimpah keluar kawasan pelabuhan hingga ke jalan raya.

 

Karena itu, penyediaan buffer zone atau kantong parkir darurat menjadi salah satu langkah penting agar kendaraan tidak terus menumpuk di badan jalan utama.

 

Jika buffer zone mampu berfungsi secara maksimal, kendaraan yang menunggu jadwal penyeberangan dapat ditampung terlebih dahulu di lokasi yang telah disiapkan tanpa mengganggu mobilitas masyarakat umum.

 

Namun pertanyaan besarnya kini bukan hanya soal rencana.

Apakah seluruh strategi tersebut cukup cepat diterapkan untuk menjawab kondisi darurat yang sedang terjadi?

 

Pergantian pimpinan di ASDP Ketapang kali ini pun menjadi perhatian publik. Media Syahrianto Heriawan kini memegang kendali di salah satu lintasan penyeberangan tersibuk di Indonesia, pada saat persoalan antrean kendaraan sedang menjadi sorotan.

 

Ujian pertamanya sudah di depan mata: mampukah nakhoda baru mengurai kemacetan yang mengular hingga belasan kilometer dan mengembalikan kelancaran jalur vital Jawa–Bali?

 

Masyarakat Banyuwangi dan para pengguna jasa penyeberangan kini tentu menunggu bukti nyata.

 

Penambahan kapal, percepatan dermaga, skema TBB hingga buffer zone telah menjadi bagian dari strategi. Namun pada akhirnya, publik akan menilai dari satu hal: apakah antrean benar-benar berkurang dan jalan raya kembali lancar?

 

Ketapang–Gilimanuk bukan sekadar jalur penyeberangan.

 

Lintasan ini adalah urat nadi pergerakan manusia dan logistik antara Pulau Jawa dan Bali. Ketika Ketapang tersendat, dampaknya bisa merambat jauh ke berbagai sektor.

 

Kini bola panas berada di tangan nakhoda baru.

 

Mampukah Media Syahrianto Heriawan menjawab tantangan besar ini, atau antrean panjang Ketapang kembali menjadi pekerjaan rumah yang belum menemukan solusi permanen?

Ti
Editor Tim Redaksi
Sumber Media Indonesia Times

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN