Cuaca
Memuat cuaca...
Opini

Tiga Siswi, Satu Motor, Tanpa Helm: Di Mana Pendidikan Karakter dan Keteladanan?

Tiga Siswi, Satu Motor, Tanpa Helm: Di Mana Pendidikan Karakter dan Keteladanan?
Foto yang beredar di media sosial memperlihatkan tiga siswi yang diduga mengenakan seragam olahraga SMPN 4 Banyuwangi mengendarai satu sepeda motor tanpa menggunakan helm.

Oleh: Herman Sjahthi, S.H., M.Pd., M.Th., CBC.

Akademisi & Public Policy Legacy

Foto yang beredar di media sosial memperlihatkan tiga siswi yang diduga mengenakan seragam olahraga SMPN 4 Banyuwangi mengendarai satu sepeda motor tanpa menggunakan helm. Apabila foto tersebut benar menggambarkan peristiwa yang terjadi, maka kejadian ini patut menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan. Namun demikian, identitas para siswi maupun konteks lengkap peristiwa tersebut tetap perlu diverifikasi sebelum ditarik kesimpulan.

 

Peristiwa seperti ini tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran aturan lalu lintas, tetapi juga menjadi refleksi penting mengenai pendidikan karakter, budaya disiplin, dan kepatuhan terhadap hukum. Keselamatan peserta didik merupakan tanggung jawab bersama keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah.

 

Momentum ini menjadi bahan evaluasi bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, pihak sekolah, serta aparat kepolisian untuk memperkuat pembinaan keselamatan berlalu lintas di kalangan pelajar. Pendidikan seharusnya tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesadaran hukum dalam kehidupan sehari-hari.

Secara hukum, penggunaan sepeda motor tanpa helm berstandar nasional serta membawa penumpang melebihi ketentuan merupakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Selain berpotensi dikenai sanksi sesuai ketentuan, tindakan tersebut juga meningkatkan risiko kecelakaan yang dapat membahayakan keselamatan pengendara maupun penumpang.

 

Karena itu, diperlukan kolaborasi yang lebih konkret antara Dinas Pendidikan, kepolisian, Dinas Perhubungan, sekolah, komite sekolah, dan orang tua melalui program pembinaan keselamatan berlalu lintas yang berkelanjutan. Edukasi tidak cukup dilakukan secara seremonial, tetapi harus dibarengi dengan pengawasan, pembiasaan disiplin, serta keterlibatan aktif orang tua dalam mengawasi anak-anaknya.

 

Opini ini bukan dimaksudkan untuk menyalahkan individu maupun institusi tertentu, melainkan sebagai ajakan melakukan evaluasi bersama demi mewujudkan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan berkarakter. Banyuwangi membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga disiplin, taat hukum, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

HS

 

Rz
Penulis Rz
Ti
Editor Tim Redaksi
Sumber Media Indonesia Times

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN