Sekolah Advokasi Popmasepi 2026 Resmi Dibuka, Satukan Mahasiswa, Akademisi, Pemerintah, dan Aktivis Nasional
Tangerang Selatan – Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (POPMASEPI) resmi membuka Sekolah Advokasi Mahasiswa Pertanian Indonesia 2026 sebagai ruang kaderisasi untuk memperkuat kapasitas mahasiswa dalam mengawal kebijakan publik, mengkritisi ketimpangan, serta memperjuangkan keadilan bagi petani Indonesia. Mengusung tema "Sekolah Advokasi Mahasiswa Pertanian: Mengawal Kebijakan, Mengkritisi Ketimpangan, dan Memperjuangkan Keadilan bagi Petani Indonesia," kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil dalam membangun gerakan advokasi yang berbasis ilmu pengetahuan dan kepentingan rakyat.
Pembukaan kegiatan berlangsung di Kota Tangerang Selatan dan dihadiri oleh Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ketua Bidang DKP3 Kota Tangerang Selatan, perwakilan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tangerang Selatan, jajaran pengurus POPMASEPI, kader POPMASEPI dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, serta sejumlah aliansi mahasiswa dari berbagai daerah.




Dalam sambutannya, para tamu undangan mengapresiasi inisiatif POPMASEPI dalam menghadirkan ruang pembelajaran yang mengintegrasikan penguatan kapasitas akademik dengan praktik advokasi. Mahasiswa dinilai memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang mampu menjembatani kepentingan masyarakat melalui kajian ilmiah, partisipasi publik, dan pengawalan terhadap kebijakan yang berdampak pada sektor pertanian dan kehidupan petani.
Menurut aktivis mahasiswa sekaligus Ketua Pelaksana Sekolah Advokasi Mahasiswa Pertanian Indonesia 2026, Aura Miftahul Huda Ilyasa, Sekolah Advokasi merupakan ikhtiar untuk membangun generasi mahasiswa yang memiliki keberanian intelektual sekaligus kemampuan teknis dalam melakukan advokasi kebijakan.




"Sekolah Advokasi ini kami rancang sebagai ruang kaderisasi yang mempertemukan mahasiswa dengan para akademisi, pemerintah, dan aktivis nasional. Kami ingin peserta tidak hanya memahami persoalan pertanian dari sisi teori, tetapi juga mampu membaca realitas sosial, menyusun kajian yang komprehensif, membangun strategi advokasi, serta mengawal kebijakan yang berpihak kepada petani dan masyarakat. Harapannya, kader POPMASEPI dapat menjadi pemimpin muda yang kritis, solutif, dan berintegritas dalam memperjuangkan kepentingan publik," ujar Aura.
Setelah prosesi pembukaan, seluruh peserta mengikuti rangkaian Forum Advokasi yang menjadi agenda utama Sekolah Advokasi Mahasiswa Pertanian Indonesia 2026. Dalam forum ini, peserta memperoleh pembekalan langsung dari berbagai organisasi masyarakat sipil dan tokoh yang selama ini aktif mengawal isu demokrasi, hak asasi manusia, lingkungan hidup, antikorupsi, hingga kebijakan publik di Indonesia.




Narasumber yang hadir berasal dari KontraS, LBH Jakarta, Greenpeace Indonesia, Indonesia Corruption Watch (ICW), serta Khariq Anhar, salah satu pengamat sosial-politik Indonesia. Kehadiran para pemateri memberikan perspektif yang beragam mengenai tantangan advokasi di Indonesia sekaligus memperkaya wawasan peserta tentang strategi membangun gerakan sosial yang efektif dan berkelanjutan.
Selama forum berlangsung, peserta dibekali berbagai materi mulai dari analisis sosial agraria, resolusi konflik ekologis, perlindungan hak-hak masyarakat, strategi litigasi dan nonlitigasi, pengorganisasian masyarakat, penguatan gerakan mahasiswa, hingga pemanfaatan media digital sebagai instrumen advokasi. Selain itu, peserta juga memperoleh pelatihan mengenai penyusunan policy brief sebagai salah satu perangkat untuk memberikan rekomendasi kebijakan yang berbasis data dan hasil kajian ilmiah.




Antusiasme peserta terlihat sepanjang rangkaian kegiatan. Diskusi berlangsung secara interaktif dengan menghadirkan berbagai studi kasus yang mendorong peserta untuk berpikir kritis, menyusun analisis, dan merumuskan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya di sektor pertanian. Kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil menjadi kekuatan utama dalam menciptakan ruang belajar yang inklusif dan aplikatif.
Melalui penyelenggaraan Sekolah Advokasi Mahasiswa Pertanian Indonesia 2026, POPMASEPI menegaskan komitmennya untuk melahirkan kader-kader mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kemampuan advokasi yang mumpuni, serta keberanian untuk mengawal kebijakan publik secara kritis dan konstruktif. Diharapkan, kegiatan ini menjadi titik awal lahirnya jejaring advokasi mahasiswa pertanian yang mampu berkontribusi dalam mewujudkan sistem pertanian Indonesia yang lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak kepada kesejahteraan petani.
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Medicaid Expansion Improves Hypertension and Diabetes Control
Kombes Pol Rama Samtama Putra Pamit, Aktivis dan Masyarakat Banyuwangi Merasa Kehilangan