Membangun Peradaban dari Desa: FORMADES Jawa Timur Mengukuhkan Kolaborasi sebagai Fondasi Indonesia Masa Depan
Surabaya — Sejarah pembangunan bangsa selalu menunjukkan bahwa kemajuan sebuah negara tidak semata ditentukan oleh pertumbuhan kota-kota besar, melainkan oleh kemampuan desa menjadi pusat kehidupan yang produktif, mandiri, dan berdaya saing. Berangkat dari kesadaran itulah, Forum Membangun Desa (FORMADES) menggelar Silaturahmi dan Koordinasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Caretaker Dewan Pimpinan Daerah (DPD), serta Caretaker Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kabupaten/Kota se-Jawa Timur di Surabaya, Kamis (23/7/2026). Pertemuan ini menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi; ia menjelma sebagai ruang strategis untuk menyatukan visi, memperkuat konsolidasi, dan merumuskan langkah nyata dalam menghadapi tantangan pembangunan desa pada era transformasi nasional.
Di tengah perubahan global yang bergerak begitu cepat, mulai dari revolusi digital, perubahan iklim, hingga dinamika ekonomi dunia, desa tidak lagi dapat diposisikan sebagai pelengkap pembangunan. Desa justru menjadi episentrum lahirnya ketahanan pangan, penguatan ekonomi rakyat, pelestarian budaya, serta pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter. Masa depan Indonesia, pada akhirnya, akan sangat ditentukan oleh sejauh mana desa mampu tumbuh sebagai ruang inovasi dan pusat pemberdayaan masyarakat.




Ketua DPD FORMADES Jawa Timur, Gus H. Hamzah Pujiono, S.Ag., SM, menegaskan bahwa forum koordinasi tersebut merupakan momentum penting untuk memperkuat soliditas organisasi sekaligus mempererat sinergi antarpengurus di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur. Menurutnya, organisasi yang besar bukan hanya diukur dari luasnya jaringan, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
"FORMADES harus menjadi rumah besar bagi seluruh elemen yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan desa. Organisasi ini tidak boleh berhenti pada aktivitas seremonial, tetapi harus mampu melahirkan gagasan, program, dan aksi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Desa membutuhkan kolaborasi, bukan berjalan sendiri-sendiri. Desa membutuhkan inovasi, bukan sekadar rutinitas," ujarnya.




Pernyataan tersebut mencerminkan arah baru pembangunan desa yang menempatkan kolaborasi sebagai kekuatan utama. Dalam konteks pembangunan modern, keberhasilan tidak lagi bertumpu pada satu institusi, melainkan pada kemampuan membangun kemitraan yang saling menguatkan antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, hingga organisasi sosial. FORMADES memosisikan dirinya sebagai jembatan yang mempertemukan berbagai kekuatan tersebut untuk menghasilkan ekosistem pembangunan desa yang inklusif dan berkelanjutan.
Jawa Timur memiliki ribuan desa dengan kekayaan potensi yang luar biasa. Ada desa yang unggul di sektor pertanian, perikanan, peternakan, industri kreatif, pariwisata, hingga ekonomi digital. Potensi itu hanya akan menjadi kekuatan apabila dikelola dengan tata kelola yang baik, kepemimpinan yang visioner, serta sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan zaman. Karena itu, pembangunan desa pada era sekarang tidak cukup hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui investasi pada kualitas manusia, penguatan kelembagaan, serta pemanfaatan teknologi secara cerdas.




Dalam forum tersebut, penguatan organisasi menjadi salah satu agenda utama. Pembentukan kepengurusan yang solid hingga tingkat kabupaten dan kota dipandang sebagai langkah strategis untuk mempercepat implementasi program-program pemberdayaan masyarakat. Struktur organisasi yang kuat diharapkan mampu menghadirkan pendampingan yang lebih efektif, memperluas jejaring kemitraan, sekaligus mempercepat penyebaran berbagai inovasi pembangunan ke seluruh wilayah Jawa Timur.
Tidak kalah penting, forum ini juga menjadi ruang lahirnya berbagai gagasan baru mengenai pengembangan desa berbasis potensi lokal. Digitalisasi pelayanan publik, penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), hilirisasi produk unggulan, pengembangan desa wisata, pemberdayaan pemuda, peningkatan kapasitas perempuan, hingga penguatan literasi digital menjadi bagian dari agenda besar yang diyakini mampu mendorong desa naik kelas. Pendekatan ini menegaskan bahwa pembangunan desa harus bergerak dari pola konsumtif menuju pola produktif, dari ketergantungan menuju kemandirian, serta dari kompetisi menuju kolaborasi.




Lebih jauh lagi, FORMADES memandang bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak hanya diukur melalui indikator ekonomi, tetapi juga dari tumbuhnya kepercayaan masyarakat, meningkatnya partisipasi publik, menguatnya budaya gotong royong, serta lahirnya kepemimpinan lokal yang berintegritas. Desa yang maju adalah desa yang mampu menjaga nilai-nilai sosial sekaligus terbuka terhadap inovasi.
Silaturahmi di Sidoarjo ini pada akhirnya menghadirkan pesan yang lebih luas daripada sekadar penguatan organisasi. Ia menjadi simbol bahwa pembangunan Indonesia memerlukan gerakan kolektif yang dimulai dari akar rumput. Ketika desa diberi ruang untuk berkembang, didampingi dengan tata kelola yang baik, dan diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, maka desa akan tumbuh menjadi pusat kemajuan yang mampu mengurangi kesenjangan, membuka lapangan kerja, memperkuat ekonomi nasional, sekaligus menjaga jati diri bangsa.




Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi negeri ini, optimisme tetap menemukan pijakannya. Optimisme itu lahir dari desa-desa yang terus bergerak, dari masyarakat yang tidak berhenti berinovasi, dan dari organisasi yang memilih menjadi bagian dari solusi. Melalui konsolidasi yang semakin kokoh, FORMADES Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus mengawal lahirnya desa-desa yang mandiri, tangguh, inovatif, dan berdaya saing.
Sebab, membangun desa sesungguhnya bukan hanya membangun wilayah administratif. Membangun desa adalah membangun peradaban. Ketika desa tumbuh dengan kekuatan ekonomi, kualitas sumber daya manusia, tata kelola yang baik, dan semangat gotong royong yang tetap terpelihara, di sanalah masa depan Indonesia sedang dipersiapkan kokoh dari akar, maju dalam gagasan, dan bermartabat dalam setiap langkah pembangunannya. (Bagas)
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Medicaid Expansion Improves Hypertension and Diabetes Control
Kombes Pol Rama Samtama Putra Pamit, Aktivis dan Masyarakat Banyuwangi Merasa Kehilangan