SURABAYA – Media Indonesia Times |Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjadikan peringatan Dies Natalis ke-66 sebagai momentum memperkuat jejaring strategis, memperluas kolaborasi ant perguruan tinggi, sekaligus mengakselerasi pengembangan prestasi mahasiswa. Langkah tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Jotosen Metafora Golf Tournament 2026, yang diikuti sekitar 540 alumni ITS dari berbagai daerah di Indonesia. Untuk hari ini sekitar 312 peserta di dua lapangan golf sekaligus, yakni Bukit Darmo Golf Surabaya dan Graha Family Golf, Sabtu (7/11/2026).
Turnamen yang diinisiasi alumni ITS tersebut bukan sekadar perhelatan olahraga tahunan. Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, Jotosen berkembang menjadi ruang konsolidasi kekuatan alumni, forum pertemuan lintas profesi, sekaligus jembatan komunikasi antarpimpinan perguruan tinggi. Lebih jauh, agenda ini juga terhubung dengan rencana pengembangan fasilitas golf di lingkungan kampus dan pembinaan atlet mahasiswa menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Besarnya partisipasi sekitar 540 peserta memperlihatkan kuatnya antusiasme alumni dalam menjaga hubungan dengan almamater. Jotosen sendiri telah menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ITS sejak 2022, dengan perjalanan tema Conquer (2022), The Biggest (2023), Spectacular (2024), Marathon (2025), dan Metafora (2026).
Tema Metafora pada penyelenggaraan tahun ini merepresentasikan perjalanan Jotosen sebagai wadah yang terus berkembang, tidak hanya dalam penyelenggaraan kompetisi, tetapi juga dalam membangun makna kebersamaan, memperluas kolaborasi, dan meninggalkan warisan positif bagi generasi berikutnya.
Rektor ITS Prof. Dr. (HC). Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., menegaskan bahwa kekuatan sebuah perguruan tinggi tidak cukup hanya bertumpu pada keunggulan akademik, riset, dan teknologi. Kemampuan membangun jejaring, mempertemukan berbagai kekuatan institusi, serta menciptakan ruang kolaborasi juga menjadi faktor penting dalam menghadapi tantangan masa depan.
Menurutnya, Jotosen memiliki nilai strategis karena mempertemukan alumni ITS dengan alumni berbagai perguruan tinggi dalam suasana yang terbuka dan konstruktif.
"Harapan kami, ini menjadi media untuk alumni bertemu, bersinergi, dan bekerja sama. Kami juga berusaha mengumpulkan alumni dari berbagai universitas agar networking semakin besar dan semakin luas. Sekarang tidak mungkin kita bekerja sendiri. Kita pasti membutuhkan banyak orang untuk bisa bekerja sama," ungkap Bambang.
Ia menilai, jejaring yang kuat merupakan salah satu modal penting bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan kapasitas kelembagaan. Kolaborasi tidak lagi dapat dibatasi oleh sekat institusi, melainkan harus dibangun melalui keterbukaan, kepercayaan, dan kesediaan mengintegrasikan berbagai potensi.
12 REKTOR DI CIPUTRA GOLF, JOTOSEN PERLUAS DIPLOMASI ANTARKAMPUS
Dimensi strategis Jotosen semakin terlihat melalui agenda pertemuan sekitar 12 rektor dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang dijadwalkan bergabung dalam kegiatan lanjutan di Ciputra Golf.
Kehadiran para pimpinan perguruan tinggi tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperluas komunikasi dan membangun sinergi lintas institusi. Pertemuan ini diharapkan membuka ruang pertukaran gagasan, memperkuat hubungan kelembagaan, serta menciptakan peluang kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, dan berbagai agenda strategis lainnya.
Bambang menjelaskan, sejumlah rektor semula dijadwalkan hadir pada hari pertama. Namun, karena terdapat agenda bersamaan di Malang, kehadiran mereka kemudian dijadwalkan pada kegiatan berikutnya di Ciputra Golf.
"Besok ada mungkin dua belas rektor yang akan bergabung dalam acara di Ciputra. Sebenarnya mestinya mereka hari ini, tetapi hari ini sedang ada acara di Malang, sehingga kita tunda besok dengan berbagai perwakilan dari kampus-kampus tersebut," jelasnya.
Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan kerja sama pendidikan tinggi dapat dibangun melalui berbagai pendekatan, termasuk ruang interaksi informal yang memungkinkan para pemimpin institusi berkomunikasi secara lebih terbuka.
Dalam konteks persaingan global, kolaborasi antarkampus menjadi semakin relevan. Perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan inovasi secara mandiri, tetapi juga mampu membangun ekosistem kerja sama yang mempertemukan keunggulan sumber daya, kepakaran, infrastruktur riset, dan jaringan profesional.
Melalui Jotosen, ITS menghadirkan salah satu ruang perjumpaan tersebut. Lapangan golf menjadi titik temu yang mempertemukan kekuatan alumni dan pimpinan perguruan tinggi dalam satu agenda kebersamaan.
ITS SIAPKAN DRIVING RANGE DI DALAM KAMPUS, ALUMNI DAN MITRA DIAJAK BERINVESTASI
Tidak berhenti pada penguatan jejaring, ITS juga menyiapkan langkah konkret untuk memperluas akses mahasiswa terhadap olahraga golf melalui rencana pembangunan fasilitas driving range di dalam lingkungan kampus.
Bambang Pramujati Rektor ITS mengungkapkan, lahan untuk pembangunan fasilitas tersebut telah disiapkan. Saat ini, ITS tengah menjajaki peluang kerja sama dengan alumni maupun mitra strategis yang bersedia mendukung investasi pembangunan fasilitas tersebut.
"Kami sedang berusaha membuat driving range di kampus agar bisa mengakomodasi mahasiswa. Lahannya sebenarnya sudah kita siapkan, tinggal mencari mitra atau alumni yang bisa bekerja sama dan berinvestasi di sana," ungkap Bambang.
Ia menargetkan realisasi pembangunan dapat dimulai pada semester pertama tahun berikutnya.
Rencana tersebut menjadi bagian dari penguatan infrastruktur pendukung kegiatan kemahasiswaan, khususnya UKM Golf ITS yang telah berdiri sekitar dua hingga tiga tahun terakhir.
Keberadaan fasilitas latihan di dalam kampus diharapkan mampu memberikan akses yang lebih mudah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan, meningkatkan intensitas latihan, serta membangun sistem pembinaan yang lebih terarah.
Bagi ITS, pembangunan driving range juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan alumni dan mitra eksternal. Alumni tidak hanya berperan sebagai penghubung jejaring profesional, tetapi juga berkesempatan berkontribusi langsung dalam penyediaan fasilitas yang mendukung pengembangan generasi muda.
Bambang menjelaskan, golf memiliki nilai lebih dari sekadar aktivitas olahraga. Cabang olahraga ini juga memberikan ruang pembelajaran komunikasi, etika, interaksi profesional, dan negosiasi.
"Kalau dulu golf sangat eksklusif, sekarang sudah bisa diterima banyak orang. Dan ini rasanya menjadi tempat untuk berdiskusi, bernegosiasi, dan menjalin hubungan," tuturnya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan ITS mendorong mahasiswa mengenal dan mengembangkan olahraga golf. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan membangun komunikasi, memperluas relasi, serta menjalin kolaborasi lintas profesi.
DARI PORPROV MENUJU PON 2028, ITS SIAP BERIKAN AFIRMASI AKADEMIK DAN BEASISWA
Sementara itu, pada aspek pembinaan prestasi, ITS memberikan perhatian serius terhadap potensi mahasiswa yang memiliki kemampuan di bidang olahraga, khususnya golf. Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam UKM Golf telah menunjukkan capaian di tingkat daerah, termasuk prestasi dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).
Potensi tersebut menjadi modal penting untuk mempersiapkan atlet menuju kompetisi yang lebih tinggi, termasuk PON 2028.
Bambang mengungkapkan, ITS sebelumnya juga pernah menyelenggarakan turnamen Master Hero. Dalam kegiatan tersebut, salah satu peserta yang keluar sebagai juara diketahui merupakan pemain yang pernah berlaga di PON.
Pengalaman tersebut memperkuat perhatian ITS terhadap pengembangan bakat olahraga di lingkungan kampus. Mahasiswa yang memiliki potensi atletik perlu mendapatkan dukungan agar mampu meningkatkan prestasi sekaligus tetap memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi.
"Kami akan berusaha memfasilitasi agar mereka bisa terus mengembangkan kariernya. Kalau memang harus mengikuti PON, tentunya ada afirmasi yang perlu kita lakukan. Misalnya, ketika mereka harus menjalani latihan, kegiatan perkuliahannya perlu disesuaikan. Itu harus kita dukung agar prestasinya bisa meningkat," tegas Bambang.
Komitmen tersebut mencerminkan pendekatan pendidikan yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkembang secara multidimensional. Prestasi olahraga tidak dipandang sebagai aktivitas yang terpisah dari pendidikan, tetapi menjadi bagian dari pengembangan kapasitas, kedisiplinan, karakter, dan daya saing mahasiswa.
Dukungan ITS juga diarahkan pada peluang pemberian beasiswa bagi mahasiswa yang berhasil meraih prestasi.
"Termasuk nantinya akan ada beasiswa jika berprestasi. Kalau beasiswa, insyaallah tidak ada masalah. Kami dengan senang hati bisa memberikan beasiswa bagi mereka yang berprestasi," ujarnya.
Melalui dukungan afirmasi akademik dan peluang beasiswa tersebut, ITS berupaya memastikan mahasiswa atlet memperoleh kesempatan mengembangkan karier olahraga tanpa harus mengesampingkan masa depan pendidikannya.
DIES NATALIS KE-66, MOMENTUM MEMPERKUAT EKOSISTEM KAMPUS BERDAYA SAING
Penyelenggaraan Jotosen Metafora Golf Tournament 2026 menghadirkan tiga agenda penting yang saling berkaitan dalam pengembangan ITS ke depan: penguatan jejaring dan kolaborasi antarkampus, pembangunan fasilitas olahraga melalui sinergi alumni dan mitra, serta pembinaan mahasiswa berprestasi menuju kompetisi nasional.
Ketiganya memperlihatkan bahwa pengembangan perguruan tinggi membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Keunggulan akademik, kapasitas riset, dan penguasaan teknologi perlu ditopang oleh jejaring yang kuat, fasilitas pendukung yang memadai, serta sistem pembinaan sumber daya manusia yang memberikan ruang bagi beragam potensi.
Dengan melibatkan sekitar 540 alumni, menghadirkan agenda pertemuan sekitar 12 rektor, menyiapkan pembangunan driving range, serta memberikan dukungan kepada mahasiswa atlet menuju PON 2028, ITS memperluas makna peringatan Dies Natalis ke-66 dari sekadar perayaan institusi menjadi momentum penguatan ekosistem kolaborasi dan prestasi.
Jotosen Metafora Golf Tournament 2026 dengan demikian bukan hanya mencatat keberlanjutan tradisi alumni ITS sejak 2022. Kegiatan ini juga menjadi representasi bagaimana kekuatan alumni, kepemimpinan perguruan tinggi, fasilitas pendidikan, dan potensi mahasiswa dapat dipertemukan dalam satu agenda pengembangan institusi.
Di usia ke-66, ITS menegaskan bahwa membangun perguruan tinggi berdaya saing tidak cukup hanya dengan menghasilkan inovasi teknologi. Diperlukan pula kekuatan jejaring, kolaborasi lintas institusi, investasi pada fasilitas pendidikan, dan keberpihakan terhadap talenta berprestasi. Inilah fondasi pengembangan sumber daya manusia unggul yang tidak hanya siap menghadapi persaingan nasional, tetapi juga mampu mengambil peran dalam percaturan global. (Bagas)
© Media Indonesia Times 2026 — Patuhi Kode Etik Jurnalistik dan Hak Cipta