Cuaca
Memuat cuaca...
Berita

DMI BANYUWANGI GAUNGKAN MASJID HIJAU

DMI BANYUWANGI GAUNGKAN MASJID HIJAU
Kegiatan digelar di Taman Meru Cafe, Desa Tambong, Kecamatan Kabat, itu dihadiri Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat (PP) DMI Dr. H. Rahmat Hidayat, S.E., M.T.

BANYUWANGI — Pimpinan Daerah (PD) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Banyuwangi mendorong masjid mengambil peran lebih luas dalam merespons persoalan lingkungan. Langkah itu diwujudkan melalui Pembinaan Takmir dan Imam Masjid se-Kabupaten Banyuwangi Tahun 2026 bertema “Penghijauan Berbasis Masjid: Sosialisasi dan Gerakan Menanam Pohon dalam Mendukung Mitigasi Perubahan Iklim”, Sabtu, 8 Agustus 2026.

 

Kegiatan yang digelar di Taman Meru Cafe, Desa Tambong, Kecamatan Kabat, itu dihadiri Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat (PP) DMI Dr. H. Rahmat Hidayat, S.E., M.T. Hadir pula Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuwangi, Suratno, mewakili Bupati Banyuwangi, beserta jajaran Forum Pimpinan Daerah.

 

Sejumlah pimpinan dan jajaran lembaga pemerintah, badan usaha milik daerah, serta pemangku kepentingan lainnya juga mengikuti kegiatan tersebut. Para takmir dan imam masjid dari berbagai wilayah di Banyuwangi menjadi bagian utama dalam forum pembinaan itu.

 

Ketua PD DMI Kabupaten Banyuwangi, mengatakan pertemuan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk memperkuat fungsi masjid. Menurut dia, masjid tidak semestinya hanya dipandang sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga pusat pembinaan umat sekaligus penggerak sosial yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

 

Dalam kegiatan tersebut juga menempatkan isu lingkungan sebagai salah satu bidang yang dapat disentuh melalui gerakan berbasis masjid. Jaringan masjid yang tersebar hingga pelosok desa dinilai memiliki kekuatan untuk membangun kesadaran masyarakat dari tingkat paling dekat.

 

“Tema kegiatan kali ini menjadi sangat relevan. Menjaga lingkungan bukan semata-mata persoalan ekologis, melainkan juga bagian dari tanggung jawab kita sebagai khalifah di muka bumi,” katanya.

 

Ia mengatakan gerakan menjaga bumi bisa dimulai dari lingkungan masjid. Bentuknya tidak harus berupa program besar. Menanam dan merawat pohon, menjaga kebersihan, mengurangi sampah, hingga membangun kebiasaan jamaah yang lebih peduli terhadap lingkungan dapat menjadi langkah awal.

 

“Kita ingin membangun kesadaran bahwa gerakan menjaga bumi dapat dimulai dari masjid. Bayangkan apabila masjid-masjid di seluruh Kabupaten Banyuwangi bergerak bersama melakukan penghijauan, menanam dan merawat pohon, menjaga kebersihan, mengurangi sampah, serta mengedukasi jamaah tentang kepedulian terhadap lingkungan. Dampaknya tentu akan sangat besar,” ujarnya

 

Menurut dia, posisi takmir dan imam menjadi strategis karena bersentuhan langsung dengan jamaah. Mereka tidak hanya mengelola aktivitas keagamaan, tetapi juga dapat menjadi penggerak perubahan perilaku di tengah masyarakat. Pesan mengenai kelestarian lingkungan, misalnya, dapat diterjemahkan ke dalam kegiatan sederhana yang dilakukan secara rutin di masing-masing masjid.

 

Gerakan penghijauan berbasis masjid juga diharapkan tidak berhenti pada seremoni penanaman. Pohon yang telah ditanam perlu dirawat agar manfaat ekologisnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. DMI ingin semangat tersebut tumbuh menjadi kebiasaan di lingkungan masjid dan kemudian menjalar ke rumah serta lingkungan tempat tinggal jamaah.

 

Upaya tersebut membutuhkan kerja bersama. PD DMI Banyuwangi, kata dia, tidak mungkin menjalankan agenda pemberdayaan masjid secara sendirian.

 

“DMI Kabupaten Banyuwangi tidak dapat berjalan sendiri. Kami membutuhkan dukungan para takmir, imam, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, akademisi, komunitas, serta seluruh elemen masyarakat,” katanya.

 

Kolaborasi itu menjadi penting karena isu lingkungan bersinggungan dengan banyak sektor. Masjid, menurut DMI, dapat mengambil posisi sebagai simpul yang mempertemukan edukasi keagamaan dengan gerakan sosial dan kepedulian terhadap alam. Dengan jumlah masjid yang tersebar di berbagai kecamatan, gerakan yang dilakukan secara serentak berpotensi memberikan dampak luas.

 

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal PP DMI Dr. H. Rahmat Hidayat, S.E., M.T., mengajak seluruh elemen masyarakat terus memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara. Ia menempatkan masjid sebagai salah satu ruang penting untuk menumbuhkan semangat kebersamaan dan pengabdian kepada masyarakat.

 

Di penghujung sambutannya, Rahmat turut memanjatkan doa dan harapan bagi masa depan Indonesia. Ia berharap Indonesia tumbuh menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi, dengan kehidupan masyarakat yang makmur dan tenteram. Harapan itu juga diarahkan agar Indonesia menjadi negeri baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—negeri yang baik, sejahtera, dan memperoleh ampunan serta keberkahan Allah SWT.

 

Pesan tersebut sekaligus menguatkan gagasan bahwa kemakmuran tidak hanya diukur melalui pembangunan ekonomi. Lingkungan yang lestari, kehidupan sosial yang harmonis, serta masyarakat yang memiliki kesadaran menjaga alam menjadi bagian dari pembangunan yang berkelanjutan.

 

Rangkaian kegiatan hari itu tak hanya diisi pembinaan. Rahmat juga secara resmi melakukan launching Taman Meru Cafe di Desa Tambong, Kecamatan Kabat. Peluncuran tersebut menjadi bagian lain dari agenda kunjungan Sekjen PP DMI di lokasi kegiatan.

 

Agenda kemudian bergeser ke lingkungan Masjid Assasut Taqwa di Dusun Krajan, Desa Tambong. Di area terbuka masjid tersebut, dilakukan penanaman dua pohon alpukat secara simbolis. Rahmat ikut melakukan penanaman sebagai penanda dimulainya semangat penghijauan berbasis masjid yang didorong PD DMI Kabupaten Banyuwangi.

 

Dua bibit alpukat itu menjadi simbol sederhana dari pesan yang dibawa sepanjang kegiatan: masjid dapat menjadi titik awal gerakan merawat lingkungan. Dari halaman masjid, DMI berharap kesadaran itu tumbuh lebih luas—dari takmir kepada jamaah, dari jamaah kepada keluarga, lalu berkembang menjadi gerakan bersama di tengah masyarakat.

 

Bagi PD DMI Banyuwangi, penghijauan tersebut bukan sekadar menambah pepohonan di sekitar tempat ibadah. Gerakan itu diarahkan untuk mempertemukan nilai keagamaan dengan tanggung jawab ekologis. Masjid tetap menjadi tempat umat bersujud, tetapi dari tempat yang sama, ikhtiar menjaga bumi juga mulai ditanam.

Rz
Penulis Rz
Ti
Editor Tim Redaksi
Sumber Media Indonesia Times

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN