Cuaca
Memuat cuaca...
iklan 1
Berita

DKB Banyuwangi dan Lentera Sastra Perkuat Ekosistem Sastra Banyuwangi lewat Bedah Buku Nyanyian Ilalang

DKB Banyuwangi dan Lentera Sastra Perkuat Ekosistem Sastra Banyuwangi lewat Bedah Buku Nyanyian Ilalang
Traktir!

Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Media Indonesia Times dengan traktir.

BANYUWANGI – Dewan Kesenian Blambangan (DKB) bersama Lentera Sastra Banyuwangi memperkuat ruang apresiasi dan dialog sastra di Kabupaten Banyuwangi melalui bedah antologi puisi Nyanyian Ilalang karya Vieva, Kamis (24/9/2026), di BG Coffee, Kampung Anyar, Glagah. Kegiatan tersebut mempertemukan unsur kebudayaan, pendidikan, akademisi, komunitas literasi, dan masyarakat untuk membahas karya sastra sekaligus peran puisi dalam merawat kepekaan manusia.

 

Ketua DKB Banyuwangi Hasan Basri menegaskan pentingnya keberadaan ruang dialog dalam membangun ekosistem sastra daerah. Menurutnya, pertumbuhan sastra tidak cukup hanya ditandai dengan lahirnya karya, tetapi juga membutuhkan proses apresiasi, kritik, diskusi, dan perjumpaan antara penulis dengan pembaca.

 

“Puisi bukan sekadar permainan kata, melainkan medium untuk memahami diri, kehidupan, dan relasi manusia dengan realitas di sekitarnya,” kata Hasan.

 

Ia menyebut puisi dapat menjadi ruang refleksi di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat. Sastra memberikan kesempatan bagi manusia untuk memperlambat langkah, membaca pengalaman, dan mempertahankan kepekaan terhadap lingkungan sosialnya.

 

“Puisi adalah ruang untuk merawat kepekaan. Di tengah dunia yang semakin bising dan serba instan, puisi membantu manusia berhenti sejenak, merenung, dan mendengarkan suara batinnya sendiri,” ujarnya.

 

Ketua Lentera Sastra Banyuwangi H. Syafaat, S.H., M.H.I., yang memandu dialog, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan sastra sebagai ruang perjumpaan. Menurutnya, bedah buku dapat menjadi medium untuk mempertemukan karya, pemikiran, dan pembaca dalam sebuah percakapan kebudayaan.

 

“Melalui ruang dialog seperti ini, karya sastra tidak berhenti sebagai teks. Ia dapat dibaca dari berbagai perspektif dan berkembang menjadi pengetahuan bersama,” demikian gagasan yang mengemuka dalam forum.

 

Kegiatan menghadirkan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., sebagai keynote speaker. Kehadiran Kemenag memperluas perspektif diskusi, khususnya mengenai hubungan sastra, kemanusiaan, dan kehidupan keagamaan.

 

Chaironi menjelaskan bahwa puisi mempunyai karakter bahasa yang khas. Penyair memiliki kebebasan dalam memilih diksi dan gaya ungkap sesuai pengalaman serta gagasan yang hendak disampaikan.

 

“Puisi adalah karya tulis sastra yang sering kali menggunakan tata bahasa yang tidak biasa. Karena itu, tidak ada yang salah dalam sebuah karya sastra, sebab semuanya bergantung pada bagaimana sastra itu dibuat. Puisi pada intinya mencerminkan siapa penulisnya karena merupakan ungkapan yang jujur tentang jati dirinya,” ujarnya.

 

Chaironi menilai Nyanyian Ilalang memiliki kekuatan pada kesederhanaan diksi yang memberikan ruang bagi pembaca untuk melakukan interpretasi. Puisi, menurutnya, dapat mempertemukan aspek estetika dengan pengalaman manusia.

 

Dalam perspektif keagamaan, sastra juga dapat menjadi salah satu media untuk memperhalus rasa. Pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan akan semakin bermakna ketika disertai kemampuan manusia untuk memahami pengalaman dan keadaan orang lain.

 

Diskusi turut menghadirkan akademisi UNIIB M. Iqbal Baraqas dan penyair Fatah Yasin Noor. Keduanya memberikan pandangan mengenai karya Vieva serta perkembangan ekosistem sastra di Banyuwangi.

 

Apresiasi terhadap karya juga diwujudkan melalui pembacaan puisi. Nuhbatul Fakhiroh Maulidia, S.Pd., tenaga kependidikan MTsN 1 Banyuwangi sekaligus juara Liga Puisi tingkat guru tahun 2023, membacakan salah satu puisi karya Vieva. Sejumlah peserta, termasuk Faiz Abadi, turut membacakan puisi.

 

Sejumlah pegiat seni dan budaya turut hadir, antara lain Pramoe Soekarno dan Aekanu Haryono. Dari lingkungan madrasah hadir Kepala MTsN 5 Banyuwangi Herny Nilawati, Kepala MTsN 2 Banyuwangi Uswatun Hasanah, Kepala MTsN 7 Banyuwangi Sri Endah Zulaikhatul Kharimah, Kepala MI Darunnajah 2 Tukangkayu Majidatul Himmah, serta pengawas madrasah Faiz Abadi dan Siti Muanifah.

 

Turut hadir Purwo Widodo, penyelenggara Katolik pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, serta Muttafaqur Rohmah dari Forum 28 yang juga dosen Untag Banyuwangi.

 

Bedah Nyanyian Ilalang menjadi salah satu ruang kolaborasi DKB dan Lentera Sastra dalam mengembangkan kehidupan sastra di Banyuwangi. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa sastra dapat tumbuh ketika berbagai unsur bersedia membuka ruang dialog dan memberikan kesempatan kepada karya untuk didengar.

 

Pada akhirnya, sebuah puisi tidak selalu membutuhkan suara yang keras. Ia cukup hadir melalui kata-kata yang jernih, lalu membiarkan pembaca menemukan maknanya sendiri. Seperti ilalang yang tumbuh di antara tanah dan angin, sastra mungkin sederhana, tetapi keberadaannya dapat menjadi pengingat agar manusia tetap memiliki waktu untuk berpikir, merasakan, dan menjaga kepekaan.

Sumber Media Indonesia Times

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN