Pasar Ramadhan Menganti Permai 2026, Menggerakkan Ekonomi Rakyat dan Merawat Kebersamaan di Gresik
Traktir!
Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Media Indonesia Times dengan traktir.
Aroma gorengan hangat, kolak pisang, es buah, dan aneka jajanan tradisional menyambut setiap langkah pengunjung. Di sela percakapan ringan dan tawa anak-anak yang berlarian kecil, terasa betul bahwa Ramadan di lingkungan ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang merawat kebersamaan.
Pasar Ramadan yang digagas Paguyuban UMKM RW 09 bekerja sama dengan Pengurus RW 09 tersebut menjadi ruang temu sosial dan ekonomi warga. Di tengah kehidupan urban yang kian individual, ruang-ruang komunal seperti ini menghadirkan kembali nilai-nilai gotong royong yang menjadi fondasi masyarakat.
Pembukaan kegiatan dihadiri sejumlah unsur masyarakat dan aparat, di antaranya perwakilan Kapolsek Menganti Abd Kholiq, Babinsa M. Abdul Wahib, Kepala Desa Hulakan Hamdani, pengurus MAKI Jawa Timur, GRIB Jaya, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat. Kehadiran mereka memperlihatkan dukungan lintas elemen terhadap inisiatif berbasis warga ini.




Sejak 24 Februari hingga 9 Maret 2026, kawasan Gapura Timur disulap menjadi sentra ekonomi kerakyatan. Puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal ambil bagian, menjajakan beragam kuliner berbuka puasa, minuman segar, kue tradisional, hingga produk kreatif hasil tangan warga. Tenda-tenda berdiri berderet rapi, lampu-lampu mulai menyala saat senja turun, menciptakan suasana hangat yang mengundang orang untuk singgah lebih lama.
Ketua RW 09 Perumahan Menganti Permai, Riawan Syamsir, menuturkan bahwa Pasar Ramadhan 2026 menjadi momen bersejarah bagi lingkungannya.
“Pasar Ramadhan 2026 di Perumahan Menganti Permai baru pertama kali digelar murni dari swadaya Paguyuban UMKM RW 09. Ini hasil kolaborasi pengurus RW dan paguyuban, serta dukungan luar biasa seluruh warga,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Rey itu menegaskan, pasar Ramadan bukan hanya tentang transaksi ekonomi, melainkan juga bentuk keberanian warga untuk membangun kemandirian. Bagi pelaku UMKM, momentum Ramadan menjadi kesempatan strategis untuk meningkatkan pendapatan sekaligus memperluas jaringan pelanggan. Perputaran ekonomi yang tercipta setiap sore menunjukkan geliat daya beli masyarakat yang tetap terjaga.




Di sudut-sudut tenda, tawar-menawar berlangsung dinamis. Anak-anak memilih jajanan favorit mereka dengan wajah berbinar. Para orang tua berbincang santai sembari menunggu waktu berbuka. Interaksi sederhana itu menghadirkan suasana yang tak ternilai: rasa memiliki terhadap lingkungan dan sesama.
Yang membedakan Pasar Ramadhan Menganti Permai ini adalah digelarnya Festival Ekstrakurikuler SD, SMP, dan SMA se-Kecamatan Menganti. Panggung sederhana di tengah area perumahan menjadi pusat perhatian warga. Beragam penampilan seni ditampilkan: tari tradisional yang anggun, paduan suara yang harmonis, hingga pertunjukan seni modern yang enerjik.
Festival tersebut bukan hanya hiburan menjelang berbuka, tetapi juga ruang aktualisasi bagi generasi muda. Di sanalah bakat diasah, kepercayaan diri tumbuh, dan apresiasi masyarakat terhadap potensi anak-anaknya menguat.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi cerminan komitmen warga dalam mendorong pengembangan karakter dan kreativitas pelajar di luar ruang kelas. Ramadan dimaknai sebagai momentum pembinaan, bukan sekadar penyelenggaraan Pasar Ramadhan.




Ketua Panitia Pasar Ramadhan, Malikus Saleh, menegaskan bahwa seluruh penyelenggaraan kegiatan dilakukan secara swadaya oleh Paguyuban UMKM RW 09.
“Kami berharap ini menjadi pijakan untuk melejit, melesat menjadi kemaslahatan dan keberkahan bagi UMKM warga Perumahan Menganti Permai, dan kami siap membantu mengurus ijin halal dan ijin usaha", katanya.
Pernyataan itu mencerminkan optimisme bahwa kekuatan komunitas mampu menjadi solusi di tengah tantangan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat. Inisiatif berbasis warga seperti ini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar, melainkan dapat tumbuh dari lingkup terkecil: lingkungan tempat tinggal.
Menjelang waktu berbuka, suasana semakin syahdu. Amin Syafi’i menutup rangkaian pembukaan dengan doa, memohon agar kegiatan ini membawa manfaat, keberkahan, dan keberlanjutan. Tak lama kemudian, adzan Magrib berkumandang. Pengunjung perlahan membubarkan diri, membawa kantong belanja dan senyum di wajah.




Senja di Gapura Timur hari itu bukan sekadar penanda berakhirnya puasa. Ia menjadi simbol bahwa di tengah mendung dan tantangan zaman, harapan tetap tumbuh dari kebersamaan. Dari tenda-tenda sederhana, dari tangan-tangan pelaku UMKM, dari panggung kecil tempat anak-anak menari lahirlah keyakinan bahwa kemandirian ekonomi dan solidaritas sosial dapat berjalan beriringan.
Pasar Ramadhan Menganti Permai 2026 bukan hanya tentang takjil dan keramaian sesaat. Ia adalah potret bagaimana sebuah komunitas menjaga denyut kemanusiaan merawat silaturahmi, menggerakkan ekonomi rakyat, dan menanamkan optimisme bahwa kebersamaan adalah kekuatan paling nyata yang dimiliki warga Menganti, hari ini dan seterusnya. (Bagas)
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Dugaan Kekerasan Seksual di TPQ Sambikerep, Polrestabes Surabaya Resmi Terima Laporan Korban
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Wabup Pohuwato Nyatakan Siap Turun Bersama Massa, Besok Dijemput di Kantor Bupati