Cuaca
Memuat cuaca...
iklan 1

MAKI Jatim Bagi 1000 Tajil Hari Ke -19 di Jalan Pemuda Taman Apsari Surabaya

MAKI Jatim Bagi 1000 Tajil Hari Ke -19 di Jalan Pemuda Taman Apsari Surabaya
Traktir!

Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Media Indonesia Times dengan traktir.

Surabaya, 9 Maret 2026 — Media Indonesia Times | Ramadan tidak pernah sekadar datang sebagai pergantian bulan dalam perhitungan waktu. Ia hadir seperti bisikan langit yang lembut, mengetuk pintu kesadaran manusia yang sering terlelap oleh hiruk-pikuk dunia. Bulan suci ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang perjalanan sunyi manusia kembali mengenal dirinya, menyelami hakikat hidup, dan perlahan mendekat kepada Sang Pencipta.

Dalam keheningan Ramadan, manusia mulai mendengar suara yang selama ini tenggelam oleh kesibukan dunia suara hati yang bertanya dengan jujur: siapakah aku sebenarnya, dari mana aku berasal, dan kepada siapa kelak aku akan kembali.

Ramadan adalah madrasah bagi jiwa. Ia mendidik manusia dengan cara yang tidak selalu dipahami oleh logika, tetapi sangat dalam dirasakan oleh hati. Lapar bukan sekadar ujian fisik, melainkan latihan kesabaran. Dahaga bukan sekadar rasa kering di tenggorokan, tetapi jalan untuk menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan.

bulan ini, manusia diajak menyadari satu hakikat yang sering terlupakan: bahwa segala sesuatu yang dimilikinya hanyalah titipan. Harta, jabatan, kekuasaan, bahkan napas yang dihirup setiap detik, semuanya berasal dari Sang Maha Pemilik yang suatu hari akan memintanya kembali.

Sore itu, denyut kemanusiaan terasa hidup di sepanjang Jalan Pemuda Surabaya, tepatnya di kawasan Taman Apsari, di depan Kantor Grahadi Jawa Timur. Kendaraan berlalu-lalang seperti biasa, roda kehidupan kota Surabaya terus berputar dalam ritme kesibukan yang tak pernah berhenti.

Namun di tengah arus lalu lintas yang padat, hadir getaran yang lebih lembut dari sekadar suara mesin kendaraan getaran kepedulian yang lahir dari hati yang disentuh oleh spirit Ramadan.

Di tempat itulah Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menebarkan kebaikan melalui kegiatan sosial pembagian 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang tengah menanti waktu berbuka puasa.

Sebanyak 10000 paket dibagikan langsung kepada para pengendara, pekerja jalanan, serta masyarakat yang melintas di kawasan tersebut. Paket-paket itu terdiri dari 250 porsi nasi putih dengan botok pindang pencit dan sambal, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon dengan isian blewah yang menyegarkan, serta 250 paket gorengan berisi donat, ote-ote, dadar jagung, dan tahu isi.

Bagi sebagian orang yang menerimanya, mungkin itu hanyalah makanan sederhana untuk melepas lapar setelah seharian berpuasa. Namun dalam makna yang lebih dalam, setiap paket yang dibagikan sesungguhnya adalah bahasa cinta yang tidak diucapkan dengan kata-kata.

Ia adalah jembatan sunyi yang menghubungkan hati manusia dengan hati manusia lainnya.

Dalam perspektif makrifat, memberi bukan sekadar tindakan sosial. Memberi adalah kesadaran spiritual bahwa manusia hanyalah perantara. Rezeki yang berada di tangan seseorang pada hakikatnya adalah amanah Tuhan yang harus mengalir kepada mereka yang membutuhkan.

Ketika tangan memberi dengan tulus, sesungguhnya hati sedang belajar mengenal salah satu sifat Tuhan: Ar-Rahman, Yang Maha Pemurah. Dan ketika seseorang berbagi tanpa pamrih, jiwanya sedang melangkah perlahan menuju cahaya makrifat cahaya yang membuat manusia memahami bahwa Tuhan tidak hanya dikenal melalui doa, tetapi juga melalui perbuatan.

Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Namun menurutnya, syukur sejati tidak berhenti pada ucapan di bibir. Syukur harus menjelma menjadi tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama manusia.

“Syukur bukan sekadar kata-kata. Ia hidup dalam kepedulian, tumbuh dalam empati, dan terlihat ketika manusia bersedia menjadi jalan turunnya rahmat bagi orang lain,” ujarnya.

Bagi MAKI, Ramadan juga menjadi ruang refleksi moral yang sangat penting. Sebagai organisasi yang berdiri dalam semangat melawan praktik korupsi, mereka memandang bahwa integritas sejati tidak hanya lahir dari aturan hukum, tetapi juga dari kesadaran spiritual manusia.

Korupsi pada hakikatnya lahir ketika manusia kehilangan kesadaran bahwa setiap perbuatannya berada dalam pengawasan Tuhan. Ketika kesadaran Ilahi memudar, hati menjadi gelap oleh keserakahan. Namun ketika kesadaran itu kembali hidup dalam jiwa, kejujuran tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang berat, melainkan menjadi kebutuhan batin.

Menjelang waktu berbuka, langit di atas Surabaya perlahan berubah warna. Semburat jingga senja menggantung di ufuk barat seperti lukisan langit yang menenangkan hati.

Orang-orang yang berpuasa menunggu azan Magrib dengan penuh harap, sementara para relawan terus membagikan ta’jil dengan wajah yang memancarkan keikhlasan.

Senyum-senyum kecil merekah di wajah para penerima. Tidak ada kemewahan di sana. Tidak ada pesta besar. Namun ada kebahagiaan yang jernih kebahagiaan yang lahir dari ketulusan.

Karena sesungguhnya kebahagiaan paling murni sering muncul dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan hati yang bersih.

Ta’jil yang dibagikan di jalan itu menjadi saksi bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi.

Dan di sanalah Ramadan menemukan maknanya yang paling dalam: mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai makhluk yang saling mencintai, saling menolong, dan saling menguatkan.

Pada akhirnya, perjalanan hidup manusia akan bermuara pada satu tujuan kembali kepada Tuhan dengan hati yang bersih. Segala yang dikumpulkan dunia akan tertinggal. Jabatan akan berlalu. Kekayaan akan berpindah tangan. Namun setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan tetap hidup sebagai cahaya yang tidak pernah padam.

Di antara langkah-langkah manusia yang melintas di Jalan Pemuda Surabaya sore itu, tersimpan pelajaran sunyi yang sangat dalam: bahwa mengenal Tuhan tidak selalu harus melalui kata-kata panjang.

Kadang Ia hadir melalui tindakan sederhana memberi makan orang yang lapar, menghapus dahaga orang yang berpuasa, dan menebarkan kasih kepada sesama. Di situlah makrifat menemukan jalannya. (Bagas)

Id
Penulis Idham Holid
Id
Editor Idham Holid

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN