Ketua MAKI Jatim Heru Satriyo Tegaskan Sikap Gubernur, Soroti Bocornya BAP dan Logika Angka yang Janggal
Traktir!
Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Media Indonesia Times dengan traktir.
Dalam keterangannya kepada awak media, Heru MAKI menyampaikan tiga poin krusial yang perlu dipahami secara jernih agar tidak terjadi penggiringan opini yang menyesatkan publik.
Agenda Negara Tidak Bisa Ditawar
Heru menjelaskan, undangan pemanggilan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK, Febri Harianto, baru diterima sekitar tiga hari sebelum jadwal pemeriksaan.




Sementara itu, undangan rapat paripurna DPRD Provinsi Jawa Timur telah diterima sejak satu bulan sebelumnya. Kedua agenda tersebut bahkan berlangsung di hari yang sama. Agenda KPK dijadwalkan pukul 14.00 WIB, sedangkan rapat paripurna DPRD berlangsung pukul 15.00 WIB.
“Rapat paripurna DPRD adalah agenda resmi kenegaraan, bersifat konstitusional, dan tidak dapat diwakilkan. Karena undangan tersebut diterima lebih dahulu, maka Ibu Gubernur memilih menjalankan kewajiban negara,” tegas Heru.
Sebagai bentuk itikad baik, Gubernur telah menginstruksikan Kepala Biro Hukum Pemprov Jatim untuk mengirimkan surat resmi permohonan penjadwalan ulang kepada KPK terkait pemanggilan sebagai saksi dalam perkara dana hibah.
“Ini bukan mangkir. Ini permohonan penjadwalan ulang yang sah, beralasan, dan sesuai prosedur hukum,” ujarnya menekankan.




Heru juga menyampaikan bahwa pada saat bersamaan, kondisi pemerintahan tidak memungkinkan adanya perwakilan. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur sedang berada di luar negeri, sementara Wakil Gubernur berada di Jakarta menghadiri rapat strategis bersama Kementerian PUPR terkait bantuan anggaran Rp400 miliar untuk pembangunan jembatan layang dari kawasan Taman Pelangi ke arah timur.
BAP Bocor, Hukum Dipertanyakan
Poin kedua yang disoroti Heru adalah keprihatinan serius secara kelembagaan atas beredarnya Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penyidikan di ruang publik dan media massa.
Menurutnya, BAP merupakan dokumen internal penyidik yang secara hukum tidak untuk dikonsumsi publik.




“Kami mempertanyakan, bagaimana mungkin dokumen internal penyidikan bisa beredar luas. Jangan sampai proses hukum ini ditarik ke ranah politik atau opini publik yang premature,” tegasnya.
Heru juga mengingatkan publik pada peristiwa sebelumnya, saat Gubernur menghadiri wisuda putranya di Tiongkok, di mana ruang kerja di lingkungan Pemprov Jatim sempat digeledah. Hingga kini, menurutnya, belum ada penjelasan resmi yang utuh kepada publik terkait tindakan tersebut.
Logika Angka yang Tidak Masuk Akal
Poin ketiga, Heru menyoroti secara tajam substansi BAP yang beredar, khususnya terkait penyebutan persentase aliran dana kepada sejumlah pihak.




Dalam BAP tersebut disebutkan, Gubernur dan Wakil Gubernur masing-masing menerima 30 persen, Sekdaprov 10 persen, serta beberapa kepala OPD dengan persentase tertentu. Jika dijumlahkan, totalnya mendekati 85 persen. “Secara logika dan akal sehat, angka-angka ini menimbulkan pertanyaan besar tentang rasionalitasnya,” ujar Heru.
Ia menegaskan, BAP pada tahap penyidikan bukanlah keterangan di bawah sumpah, melainkan keterangan awal. Dalam persidangan, seluruh kesaksian wajib disampaikan di bawah sumpah, dan hukum acara pidana memungkinkan pencabutan BAP apabila terdapat alasan yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Heru, pemanggilan Gubernur saat ini masih berada dalam tahap pembuktian formil, sehingga seharusnya dilakukan secara profesional, proporsional, dan mengikuti urutan hukum yang tepat.
“Kami berharap proses ini berjalan jernih, adil, dan tidak ditarik ke wilayah spekulasi. Negara hukum harus berdiri di atas prosedur, bukan opini,” pungkasnya.




Heru kembali menegaskan, permohonan penjadwalan ulang tersebut bukan bentuk ketidakhadiran tanpa alasan, melainkan konsekuensi dari kewajiban menghadiri rapat paripurna DPRD yang telah terjadwal lebih dahulu dan bersifat konstitusional. (Bagas)
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Dugaan Kekerasan Seksual di TPQ Sambikerep, Polrestabes Surabaya Resmi Terima Laporan Korban
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Wabup Pohuwato Nyatakan Siap Turun Bersama Massa, Besok Dijemput di Kantor Bupati