BANDUNG — Tragedi berdarah di kawasan Pasar Induk Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, yang menewaskan dua orang dan melukai satu korban lainnya, menuai kecaman keras dari Angkatan Muda Siliwangi (AMS) Kota Bandung.
Ketua AMS Kota Bandung M. Zaenal Insan, yang akrab disapa Bung Nyong, mengecam keras aksi kekerasan tersebut dan meminta seluruh pihak yang terlibat segera mempertanggungjawabkan perbuatannya.
«“Kepada para pelaku, segera serahkan diri. Hadapi proses hukum. Jangan bersembunyi. Kalau tidak menyerahkan diri, kami akan ikut mencari keberadaan mereka untuk kemudian diserahkan kepada aparat penegak hukum,” tegas Bung Nyong.»
Menurutnya, peristiwa tersebut bukan sekadar persoalan antarindividu, tetapi telah merenggut nyawa dan meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban.
“Dua nyawa melayang. Ada keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai. Ini tindakan keji yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun,” ujarnya.
BERAWAL DARI KESALAHPAHAMAN
Peristiwa terjadi pada Sabtu, 24 Oktober 2026 sekitar pukul 17.50 WIB, di kawasan Ruko Blok B-2, dekat Bank Mega, Pasar Induk Caringin.
Berdasarkan keterangan kepolisian, persoalan diduga bermula dari kesalahpahaman antara kelompok juru parkir dan kuli panggul. Perselisihan tersebut sempat dimediasi dan berdamai, namun kemudian kembali memanas hingga terjadi penyerangan.
Tiga orang menjadi korban. Fikri Ramadhan (22) meninggal dunia di lokasi, sedangkan Tisna (37) meninggal setelah sempat dalam kondisi kritis. Sementara Agus Safari (34) mengalami luka serius dan mendapat perawatan di RSHS Bandung.
Kapolsek Babakan Ciparay AKP Kardi sebelumnya menyebut polisi telah mengantongi identitas sejumlah terduga pelaku. Satu orang juga sempat diamankan untuk menjalani pemeriksaan.
Perkembangan terbaru, Polrestabes Bandung menyatakan sejumlah terduga pelaku telah diamankan pada Selasa (27/10/2026). Mereka masih diperiksa untuk memastikan keterlibatan dan peran masing-masing.
AMS: JANGAN BERHENTI PADA PENANGKAPAN
Bung Nyong mengapresiasi langkah kepolisian dan menegaskan AMS menghormati proses penyidikan.
Namun, menurutnya, pengungkapan perkara harus dilakukan secara menyeluruh berdasarkan alat bukti.
“Kami hormati aparat penegak hukum. Yang terpenting kasus ini diungkap secara terang, siapa melakukan apa dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Kalau ada pihak lain yang berdasarkan bukti memang terlibat, tentu harus diproses sesuai hukum,” katanya.
Ia menegaskan AMS tidak menghendaki persoalan tersebut berkembang menjadi konflik baru.
“Kami tidak ingin ada aksi balasan. Ini negara hukum. Kami memilih mengawal prosesnya, bukan mengambil alih kewenangan aparat,” ujarnya.
BUNG NYONG: JANGAN ADA YANG BERANI MELINDUNGI
Bung Nyong juga mengingatkan pihak mana pun agar tidak mencoba menyembunyikan atau menghalangi proses hukum.
“Kami serahkan kepada penegak hukum. Tetapi kalau ada pihak yang mencoba melindungi atau menyembunyikan pelaku, kami tentu akan mengambil langkah sesuai mekanisme hukum yang tersedia,” tegasnya.
AMS Kota Bandung bersama sejumlah organisasi masyarakat dan organisasi kepemudaan dalam Presidium Organisasi Kota Bandung menyatakan akan mengawal perkembangan perkara tersebut.
DORONG LANGKAH PENCEGAHAN DI KOTA BANDUNG
Selain penanganan perkara, AMS mendorong adanya langkah konkret untuk mencegah kekerasan serupa kembali terjadi.
Bung Nyong mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan pimpinan kepolisian di Kota Bandung guna mendorong kolaborasi antara aparat, pemerintah daerah, pengelola kawasan pasar, organisasi masyarakat dan masyarakat.
“Jangan sampai kita baru bergerak setelah ada korban. Harus ada deteksi dini, komunikasi dan pencegahan konflik. Keamanan Kota Bandung adalah tanggung jawab bersama,” katanya.
Sebelumnya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan juga meminta persoalan keamanan di kawasan Pasar Caringin menjadi perhatian. Pemkot Bandung menyatakan akan berkoordinasi dengan kepolisian dan meminta keterangan pihak pengelola pasar mengenai sistem keamanan di kawasan tersebut.
Bung Nyong menegaskan AMS tidak ingin tragedi Caringin melahirkan kekerasan baru.
“Kami tidak mencari keributan. Kami mencari keadilan. Kami tidak ingin membalas darah dengan darah. Kami ingin hukum bekerja dan masyarakat Kota Bandung tetap kondusif,” pungkasnya.
(Afer/BMC)
© Media Indonesia Times 2026 — Patuhi Kode Etik Jurnalistik dan Hak Cipta