Cuaca
Memuat cuaca...
Berita

Kemendukbangga/BKKBN Menghidupkan Makna Harganas, Ketika Ayah Menjadi Pilar Peradaban Keluarga

Kemendukbangga/BKKBN Menghidupkan Makna Harganas, Ketika Ayah Menjadi Pilar Peradaban Keluarga

Surabaya — Media Indonesia Times | Tidak semua jejak peradaban lahir dari ruang-ruang besar atau keputusan-keputusan monumental. Sebagian justru berawal dari rumah, dari pelukan seorang ayah, dari percakapan sederhana, dari selembar kertas yang dipenuhi goresan warna dan kalimat-kalimat tulus yang lahir dari hati seorang anak. Di sanalah karakter dibangun, nilai diwariskan, dan masa depan bangsa mulai ditulis.

 

Spirit itulah yang begitu terasa dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026. Melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur menghadirkan kegiatan bertajuk "Kreasi Ayah dan Buah Hati: Goresan Cinta dan Tulisan Cinta untuk Ayah" di Kaza Mall Surabaya, Minggu (12/7/2026).

 

Di tengah kehidupan modern yang bergerak semakin cepat, ketika gawai kerap mengambil alih ruang percakapan keluarga dan kesibukan sering kali menggerus waktu kebersamaan, kegiatan ini menghadirkan sebuah ruang refleksi yang mengingatkan bahwa kehadiran adalah bahasa cinta yang paling bermakna. Ayah dan anak dipertemukan bukan sekadar dalam aktivitas menggambar atau menulis, melainkan dalam sebuah perjalanan emosional untuk saling mendengar, saling memahami, dan saling menguatkan.

 

Setiap warna yang tertoreh menjadi simbol kedekatan yang terbangun tanpa banyak kata. Setiap kalimat yang ditulis anak kepada ayahnya menjadi rekaman kejujuran yang mungkin selama ini tersimpan dalam diam. Sebaliknya, setiap perhatian yang diberikan seorang ayah adalah pengingat bahwa cinta tidak selalu diucapkan, tetapi selalu dapat dirasakan melalui kehadiran dan keteladanan.

 

Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa keluarga merupakan institusi pertama yang membentuk wajah sebuah bangsa. Sebelum seorang anak mengenal sekolah, masyarakat, atau dunia, ia terlebih dahulu belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, kejujuran, dan penghormatan dari lingkungan keluarganya. Di titik itulah sosok ayah memegang peran strategis, bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi sebagai pendidik kehidupan yang menanamkan nilai, membangun rasa percaya diri, serta menjadi teladan dalam setiap langkah tumbuh kembang anak.

 

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Shodiqin, menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045 tidak dapat dilepaskan dari kualitas keluarga Indonesia. Menurutnya, keluarga yang harmonis menjadi fondasi utama lahirnya generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan mampu bersaing di masa depan.

 

Ia menekankan bahwa kehadiran ayah dan ibu secara aktif dalam setiap fase pertumbuhan anak merupakan investasi sosial yang nilainya jauh melampaui pembangunan fisik. Sebab pembangunan bangsa pada hakikatnya adalah pembangunan manusia, sementara pembangunan manusia selalu dimulai dari keluarga.

 

Melalui semangat Harganas ke-33, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan keluarga melalui penguatan peran ayah. Sebuah keluarga akan tumbuh kokoh ketika figur ayah tidak hanya hadir untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga menyediakan waktu, perhatian, komunikasi yang hangat, serta menjadi sumber inspirasi bagi anak-anaknya.

 

Di balik kesederhanaan kegiatan "Goresan Cinta dan Tulisan Cinta untuk Ayah", tersimpan pesan besar tentang masa depan Indonesia. Sebab bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh infrastruktur yang megah, melainkan oleh keluarga-keluarga yang kuat, penuh kasih, dan mampu melahirkan generasi yang memiliki karakter luhur.

 

Pada akhirnya, setiap goresan yang dibuat hari itu bukan sekadar karya seni, melainkan catatan sejarah kecil tentang cinta yang diwariskan. Setiap tulisan bukan hanya rangkaian kata, melainkan warisan nilai yang akan terus hidup dalam ingatan anak-anak hingga kelak mereka menjadi orang tua bagi generasi berikutnya.

 

Karena keluarga bukan sekadar tempat seseorang kembali. Keluarga adalah titik awal lahirnya peradaban. Dan seorang ayah, dengan kasih sayang, keteladanan, serta kehadirannya, sedang menulis warisan paling berharga yang tak lekang oleh waktu: membentuk manusia yang kelak akan membangun masa depan bangsa. (Bagas)

Ba
Penulis Bagas

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN