Kabar Baru
Tragis Dua Pengendara Motor Tewas Terlindas Truk di Jalur Nasional Banyuwangi–Situbondo
Joker Law, Langkah Baru Leandra Isvara Untuk Generasi Anak Indonesia
Perkuat Sinergitas di Jawa Timur, Keluarga Besar FRN Sambut Hangat Kepulangan Ketua Umum dan Sekjen dari Kunjungan Kerja
Praktik Tangkap Lepas di Satreskoba KP3 Viral Berhembus, Simak Bro Klarifikasi AKP Adik Agus Putrawan, S.H., M.H
Kapolres Pohuwato Pimpin Rotasi Jabatan, Ini Pesan Pentingnya untuk Pejabat Baru
NTPN Tak Ada, 29 Tahun Bayar Pajak Dianggap Nol: FASIS Pertanyakan Ke Mana Uang Warga Surat Ijo"?"
Tragis Dua Pengendara Motor Tewas Terlindas Truk di Jalur Nasional Banyuwangi–Situbondo
Joker Law, Langkah Baru Leandra Isvara Untuk Generasi Anak Indonesia
Perkuat Sinergitas di Jawa Timur, Keluarga Besar FRN Sambut Hangat Kepulangan Ketua Umum dan Sekjen dari Kunjungan Kerja
Praktik Tangkap Lepas di Satreskoba KP3 Viral Berhembus, Simak Bro Klarifikasi AKP Adik Agus Putrawan, S.H., M.H
Kapolres Pohuwato Pimpin Rotasi Jabatan, Ini Pesan Pentingnya untuk Pejabat Baru
NTPN Tak Ada, 29 Tahun Bayar Pajak Dianggap Nol: FASIS Pertanyakan Ke Mana Uang Warga Surat Ijo"?"
Memuat cuaca...
Berita

MENUNGGU JATIM BERSIH: Jejak Darah, Keberanian, Dan Janji Untuk Tanah Leluhur

MENUNGGU JATIM BERSIH: Jejak Darah, Keberanian, Dan Janji Untuk Tanah Leluhur
Agus Flores Ketua Umum PW FAST RESPON

Jawa Timur, 15 April 2026 - Media Indonesia Times | Di tengah gemuruh zaman yang semakin bising oleh kepentingan dan kekuasaan, Jawa Timur berdiri sebagai tanah warisan tanah para leluhur, tanah para ksatria, tanah yang menyimpan jejak panjang kehormatan. Namun hari ini, kehormatan itu diuji. Tambang ilegal merobek bumi, menggerus keadilan, dan mencederai warisan yang seharusnya dijaga.

 

Di titik itulah, sebuah nama mencuat dengan getaran yang tidak biasa: R. Mas MH. Agus Rugiarto Sastrodiarjo, SH., MH. Sosok yang kerap dipandang sebelah mata sebagai pendatang dari Sulawesi Tengah, namun sesungguhnya mengalir dalam dirinya darah panjang kebesaran Jawa Timur.

 

Ia bukan sekadar individu. Ia adalah mata rantai dari sejarah yang panjang.

 

Ayahnya, R. Kusnandar Sunyoto Astrodiarjo dikenal sebagai Om Kus lahir di Mojokerto hampir delapan dekade silam. Ia adalah putra dari R. Sunyoto Hadinoto dari Kediri dan R.R. Herlina, seorang putri dari trah Astrodiarjo Mojokerto. Dari garis ini, mengalir warisan priyayi dan nilai-nilai keilmuan seorang kiyai Jawa Timur yang menjunjung tinggi kehormatan, keberanian, dan tanggung jawab sosial.

 

Lebih jauh ke belakang, silsilah itu bertaut pada sosok legendaris Raden Sumoharjo Mbah Sumo yang dikenal luas di Madura dan Situbondo sebagai tokoh berpengaruh, berwibawa, dan disegani. Dari jalur yang sama, terhubung pula garis keturunan yang diyakini bersambung hingga Raden Kertabumi, Brawijaya V, raja besar Majapahit. Sebuah kerajaan yang bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi juga simbol ketertiban, hukum, dan perlindungan terhadap rakyat.

 

Maka tidak mengherankan, jika dalam diri Agus Flores tumbuh naluri membela membela hukum, membela institusi, dan membela kebenaran. Sebuah naluri yang bukan dibentuk semata oleh pendidikan, tetapi oleh darah sejarah yang mengalir deras.

 

Ketika ia berdiri membela institusi Polri, banyak yang bertanya. Namun bagi mereka yang memahami akar sejarahnya, itu bukanlah kejutan. Dalam tradisi Majapahit, Bhayangkara bukan sekadar pasukan mereka adalah penjaga kehormatan kerajaan. Dan barangkali, semangat itulah yang kini hidup kembali dalam diri seorang Agus Flores.

 

Kedekatannya dengan tokoh-tokoh nasional pun bukan sekadar relasi biasa. Ada pengakuan diam-diam terhadap kapasitas, integritas, dan latar belakang yang kuat. Sebab dalam dunia yang penuh kepura-puraan, keaslian selalu menemukan jalannya sendiri.

 

Hari ini, Jawa Timur menunggu. Menunggu keberanian seperti ini tidak hanya menjadi cerita, tetapi menjadi gerakan nyata. Menunggu tanahnya dibersihkan dari kerakusan tambang ilegal. Menunggu hukum berdiri tegak, bukan tunduk.

 

Dan mungkin, di balik semua itu, sejarah sedang berbisik pelan: bahwa darah para penjaga negeri tidak pernah benar-benar hilang mereka hanya menunggu waktu untuk bangkit kembali. (Bagas)

Penulis Bagas
Editor Tim Redaksi
Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!