Cuaca
Memuat cuaca...
Berita

Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi Dr. Ficky Septalinda: Ketika Politik Menemukan Makna Pengabdian

Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi Dr. Ficky Septalinda: Ketika Politik Menemukan Makna Pengabdian

Banyuwangi - Ada satu ironi yang kerap muncul dalam kehidupan publik kita. Politik sering dipandang sebagai ruang perebutan kekuasaan, sementara pengabdian dianggap sebagai wilayah sunyi yang jauh dari sorotan. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa politik akan menemukan kemuliaannya ketika ia berubah menjadi jalan untuk menghadirkan kemaslahatan. Sebaliknya, kekuasaan akan kehilangan makna apabila berhenti pada jabatan semata.

 

Tengah detail

Dalam lanskap itu, sosok Dr. Ficky Septalinda, S.E., M.M. menghadirkan wajah yang menarik untuk dibaca. Ia dikenal sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Banyuwangi periode 2024–2029. Sebelumnya, ia pernah dipercaya sebagai Ketua Sementara DPRD Banyuwangi pada 2014 serta memimpin Komisi IV DPRD Banyuwangi periode 2019–2024. Di luar parlemen, ia merupakan akademisi, pengusaha, sekaligus pemilik Umbul Bening Waterpark yang berkembang menjadi salah satu destinasi wisata keluarga di Banyuwangi.

 

Namun, perjalanan seseorang sesungguhnya tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diraih. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana jabatan itu menemukan makna melalui pengabdian. Sebab, jabatan memiliki batas waktu, sedangkan manfaat dapat hidup jauh melampaui masa kekuasaan.

 

Momentum pengukuhan Dr. Ficky Septalinda sebagai Dewan Pakar Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Banyuwangi periode 2026–2031 menjadi titik penting yang memperlihatkan arah tersebut. Pengukuhan itu bukan sekadar pelengkap struktur organisasi. Ia menjadi simbol bertemunya pengalaman politik, keilmuan akademik, dunia usaha, dan kepedulian sosial dalam satu ruang yang sama, yakni ruang penguatan keluarga.

 

Momentum itu berlangsung bertepatan dengan Tahun Baru Hijriah 1448 H. Dalam tradisi Islam, hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi menuju kehidupan yang lebih bermartabat. Nilai hijrah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian memperbaiki diri. Maka, ketika seorang politisi memilih memperluas pengabdiannya ke ruang pemberdayaan keluarga, sesungguhnya ia sedang memaknai hijrah dalam bentuk yang paling konkret: berpindah dari orientasi kekuasaan menuju orientasi kemanfaatan.

 

Pepatah Arab mengatakan, *al-insânu yubqâ bi atsârihi*—manusia tetap hidup melalui jejak yang ditinggalkannya. Kalimat sederhana itu mengingatkan bahwa warisan terbaik bukanlah jabatan, melainkan manfaat yang terus dirasakan masyarakat.

 

Rasulullah SAW pun memberikan ukuran yang sangat jelas tentang kemuliaan manusia. "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." Ukuran itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sangat berat. Sebab, manfaat tidak dapat dibangun hanya dengan pidato atau popularitas. Ia memerlukan kerja nyata, konsistensi, dan keberanian untuk hadir di tengah persoalan masyarakat.

 

Barangkali inilah yang membuat keterlibatan Dr. Ficky di LKKNU Banyuwangi menjadi relevan. Ia tidak datang membawa simbol politik, melainkan membawa pengalaman yang dapat diterjemahkan menjadi strategi penguatan keluarga.

 

Keluarga memang bukan sekadar urusan domestik. Dari keluarga lahir kualitas sebuah bangsa. Rumah merupakan sekolah pertama sebelum anak mengenal bangku pendidikan. Di sanalah nilai kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan penghormatan kepada sesama mulai ditanamkan.

 

Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa pendidikan akhlak bermula dari rumah. Maka, ketika keluarga mengalami krisis, sesungguhnya masyarakat sedang menghadapi ancaman yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan ekonomi atau politik.

 

Mungkin karena kesadaran itulah LKKNU Banyuwangi memilih bergerak melalui berbagai program nyata. Program Isbat Nikah, pendampingan calon pengantin, percepatan administrasi kependudukan, hingga lahirnya PELITA HATI merupakan bentuk nyata bahwa keluarga tidak cukup dibangun melalui ceramah, tetapi melalui pelayanan.

 

Dalam perspektif itu, pengalaman Dr. Ficky sebagai legislator justru menemukan relevansinya. Selama bertahun-tahun berada di DPRD, ia terbiasa membaca persoalan masyarakat dari sisi kebijakan publik. Kini, pengalaman tersebut dapat diterjemahkan dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

 

Menariknya, perjalanan akademik Dr. Ficky juga menunjukkan benang merah yang sama. Gelar doktor yang diraihnya melalui penelitian mengenai Participatory Budgeting dalam forum reses DPRD Banyuwangi berbicara tentang pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

 

Nilai partisipasi itu ternyata memiliki makna yang jauh lebih luas. Politik membutuhkan dialog agar kebijakan lahir dari aspirasi rakyat. Demikian pula keluarga. Rumah tangga yang sehat dibangun melalui musyawarah, saling mendengar, dan saling menghargai.

 

Tidak ada demokrasi yang sehat tanpa partisipasi warga. Demikian pula tidak ada keluarga yang kokoh tanpa partisipasi seluruh anggota keluarga.

 

Di sinilah terlihat bahwa politik dan keluarga sebenarnya memiliki akar nilai yang sama, yakni penghormatan terhadap martabat manusia.

 

Program PELITA HATI yang dikembangkan LKKNU Banyuwangi menjadi contoh bagaimana nilai tersebut diterjemahkan dalam praktik. Program yang merupakan akronim dari Perempuan Energik Lepas Intimidasi dan Trauma Asal itu lahir dari kepedulian terhadap perempuan yang mengalami kekerasan maupun trauma psikologis.

 

Pendekatan Healing, Advokasi, Traumaless, dan Independen menunjukkan bahwa persoalan keluarga tidak cukup diselesaikan melalui nasihat moral. Korban membutuhkan ruang aman, pendampingan, dan keberanian untuk memulai hidup baru.

 

Di sinilah pengalaman Dr. Ficky sebagai dosen Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi, keterlibatannya dalam Koperasi An-Nisa PC Muslimat NU, serta aktivitas sosial yang selama ini dijalani menjadi modal sosial yang penting. Dunia pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan kehidupan keluarga bukanlah wilayah yang asing baginya.

 

Mungkin karena itulah pernyataan beliau terdengar sederhana tetapi memiliki kedalaman makna, "Sepanjang yang dilakukan bermanfaat untuk umat, maka akan saya lakukan."

 

Kalimat itu sesungguhnya merupakan filosofi pengabdian. Tidak ada ambisi yang ditonjolkan. Tidak ada kebanggaan terhadap jabatan. Yang ditekankan justru manfaat.

 

Bangsa yang besar tidak hanya dibangun melalui jalan raya, gedung bertingkat, ataupun proyek-proyek infrastruktur. Semua itu memang penting. Namun, fondasi sesungguhnya tetap berada di dalam rumah-rumah yang dipenuhi kasih sayang.

 

Dari keluarga yang harmonis lahir anak-anak yang percaya diri. Dari ibu yang berdaya lahir generasi yang tangguh. Dari ayah yang bertanggung jawab tumbuh masyarakat yang berintegritas. Dan dari keluarga yang kokoh berdirilah bangsa yang bermartabat.

 

Karena itu, kehadiran Dr. Ficky Septalinda sebagai Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi bukan hanya memperkuat organisasi, melainkan menghadirkan sebuah pesan bahwa politik tidak harus berhenti di ruang sidang. Politik dapat menjelma menjadi pelayanan. Akademik dapat menjadi panduan kebijakan. Dunia usaha dapat menjadi sarana pemberdayaan. Dan agama dapat menjadi ruh yang menyatukan semuanya.

 

Pada akhirnya, sejarah tidak selalu mencatat mereka yang paling sering tampil di atas panggung. Sejarah lebih banyak mengingat mereka yang diam-diam menghadirkan manfaat bagi orang lain.

 

Jabatan akan selesai. Kekuasaan akan berganti. Popularitas akan memudar. Namun setiap keluarga yang terselamatkan, setiap perempuan yang kembali menemukan harapan, setiap anak yang memperoleh haknya, serta setiap rumah tangga yang kembali menemukan kedamaian akan menjadi jejak yang terus hidup.

 

Barangkali, di situlah makna terdalam dari perjalanan Dr. Ficky Septalinda. Bahwa kekuasaan hanyalah alat, sedangkan pengabdian adalah tujuan. Sebab manusia tidak dikenang karena seberapa lama ia memegang jabatan, melainkan seberapa luas manfaat yang ia tinggalkan bagi sesama. (dll)

Ti
Editor Tim Redaksi
Sumber Media Indonesia Times

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Media Indonesia Times dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia Times namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Media Indonesia Times.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN